Lampung Selatan 5,71 Persen: Sekadar Angka atau Awal Lompatan Besar?

Pertumbuhan ekonomi bukan sekadar statistik tahunan yang dibacakan dalam forum resmi. Ia adalah cermin denyut produksi, konsumsi, investasi, dan kepercayaan pelaku usaha. Karena itu, ketika Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mencatat pertumbuhan 5,71 persen dalam setahun terakhir, capaian tersebut layak dibaca lebih dalam.

Di bawah kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama dan Wakil Bupati M. Syaiful Anwar, angka 5,71 persen bukan hanya melampaui rata-rata Provinsi Lampung (5,28 persen) dan nasional (5,11 persen), tetapi juga menempatkan Lampung Selatan sebagai daerah dengan laju pertumbuhan tertinggi di provinsi ini.

Secara tahunan, lonjakan 1,09 persen dibanding 2024 menunjukkan akselerasi yang tidak biasa. Dalam konteks ekonomi daerah, kenaikan di atas satu persen dalam setahun bukan hal remeh. Itu sinyal struktur ekonomi bergerak ekspansif.

Namun, pertanyaannya: apakah ini pertumbuhan yang kokoh dan berkelanjutan?

Fondasi yang Relatif Kuat

Keterangan Kepala Bappeda Lampung Selatan, Aryan Saruhian, menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Stabilitas produksi komoditas utama menjaga daya tahan ekonomi dari guncangan eksternal. Ini penting, karena pertanian memberi bantalan sosial sekaligus ekonomi.

Sektor industri pengolahan yang meningkat menunjukkan adanya proses hilirisasi—meski masih perlu pendalaman. Ketika komoditas tidak lagi dijual mentah, nilai tambah tercipta. Di situlah pendapatan masyarakat dan daerah bisa naik lebih cepat.

Perdagangan yang tumbuh dan sektor konstruksi yang aktif menandakan siklus ekonomi berjalan sehat. Infrastruktur yang dibangun hari ini menciptakan efek berganda besok: akses membaik, distribusi lancar, biaya logistik turun, dan investasi lebih mudah masuk.

Dari sudut ini, 5,71 persen bukan angka kebetulan. Ia lahir dari kombinasi kebijakan, stabilitas produksi, dan kepercayaan pelaku usaha.

Tantangan di Balik Pertumbuhan

Tetapi, opini ini tidak berhenti pada euforia. Pertumbuhan tinggi harus diuji dengan tiga pertanyaan mendasar:

1. Apakah pertumbuhan ini inklusif?

2. Apakah ketimpangan wilayah menyempit?

3. Apakah kualitas pekerjaan dan pendapatan masyarakat meningkat?

 

Pertumbuhan bisa saja tinggi, tetapi jika terkonsentrasi di sektor atau wilayah tertentu, dampaknya tidak merata. Kabupaten dengan karakter agraris seperti Lampung Selatan harus memastikan bahwa petani, pelaku UMKM, dan pekerja informal benar-benar merasakan kenaikan pendapatan riil.

Selain itu, sektor konstruksi yang aktif perlu diimbangi dengan investasi jangka panjang di pendidikan dan peningkatan kualitas SDM. Tanpa itu, ekonomi hanya tumbuh secara kuantitatif, bukan transformasional.

Momentum yang Tak Boleh Terbuang

Yang menarik, capaian ini hadir di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Artinya, Lampung Selatan memiliki daya tahan (resilience) yang relatif baik.

Kini, tantangannya adalah mengubah pertumbuhan menjadi lompatan. Strateginya jelas: memperkuat hilirisasi pertanian, memperluas akses pembiayaan UMKM, menjaga iklim investasi, dan memastikan belanja infrastruktur tepat sasaran.

Jika konsistensi kebijakan terjaga, 5,71 persen bukan puncak, melainkan fondasi.

Lampung Selatan berpeluang menjadi motor pertumbuhan baru di Provinsi Lampung. Namun sejarah ekonomi mengajarkan satu hal: mempertahankan pertumbuhan sering kali lebih sulit daripada mencapainya.

Angka 5,71 persen adalah kabar baik. Tetapi ujian sesungguhnya adalah bagaimana angka itu diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang nyata dan merata bagi seluruh masyarakat. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *