Banjir Bandar Lampung: Alarm Krisis Drainase Kota

Bandar Lampung kembali diuji oleh banjir. Hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir memicu serangkaian peristiwa yang bukan hanya merendam jalan dan permukiman, tetapi juga menghadirkan tragedi kemanusiaan. Rangkaian kejadian tersebut seolah menjadi potret nyata bahwa persoalan banjir di kota ini belum terselesaikan secara mendasar.

Dalam waktu hampir bersamaan, sejumlah peristiwa terjadi di berbagai titik kota dan wilayah penyangga. Di kawasan Rajabasa, seorang bocah yang hanyut saat banjir akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi pengingat bahwa banjir bukan sekadar persoalan genangan air, tetapi juga menyangkut keselamatan jiwa.

Di lokasi lain, tim Basarnas juga harus mengevakuasi puluhan warga yang terjebak banjir di kawasan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan. Evakuasi tersebut menunjukkan bahwa dampak banjir tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi juga meluas ke wilayah sekitar yang terhubung dengan sistem aliran air yang sama.

Sementara itu, derasnya arus banjir juga menyebabkan sebuah mobil hanyut dan tersangkut di jembatan dekat Lamban Sabah, Bandar Lampung. Insiden ini memperlihatkan betapa kuatnya arus air ketika drainase tidak lagi mampu menampung volume hujan. Akses menuju kawasan tersebut bahkan sempat terendam, menghambat mobilitas warga.

Di tengah kondisi itu, muncul pula solidaritas sosial. Lamban Sabah misalnya membagikan bantuan kepada warga terdampak banjir di sekitar kawasan Way Dadi. Aksi kemanusiaan seperti ini tentu patut diapresiasi, karena menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat tetap hidup di tengah bencana.

Namun di balik semua peristiwa tersebut, muncul satu pertanyaan besar: mengapa banjir seperti ini terus berulang?

Fraksi PKS di DPRD Bandar Lampung bahkan telah mengingatkan adanya potensi krisis drainase kota. Peringatan ini tidak boleh dipandang sebagai sekadar kritik politik, melainkan sebagai alarm serius bagi pengelolaan infrastruktur perkotaan. Kota yang terus berkembang tanpa sistem drainase yang memadai akan selalu berada dalam risiko yang sama setiap musim hujan tiba.

Masalah banjir di Bandar Lampung tidak bisa lagi ditangani secara reaktif—sekadar normalisasi saluran ketika genangan sudah terjadi atau memberikan bantuan setelah warga terdampak. Yang dibutuhkan adalah langkah strategis dan menyeluruh: evaluasi kapasitas drainase, penataan daerah aliran sungai, pengendalian pembangunan di kawasan resapan air, serta penegakan aturan tata ruang.

Banjir yang terjadi hari ini semestinya menjadi momentum refleksi. Jika tidak ada pembenahan serius, maka setiap musim hujan kota ini akan kembali menghadapi cerita yang sama: jalan terendam, warga dievakuasi, kendaraan hanyut, dan yang paling tragis, korban jiwa.

Bandar Lampung membutuhkan solusi jangka panjang. Sebab sebuah kota seharusnya tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga mampu melindungi warganya dari risiko bencana yang sebenarnya dapat diantisipasi. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *