Di Hari Fitri, Dua Tokoh Lampung Berpulang

Bandar Lampung — Hari Raya selalu kita bayangkan sebagai ruang pulang yang utuh—pelukan yang menutup luka, tawa yang menghapus jarak. Namun pada Idulfitri 1447 Hijriah, Lampung justru belajar menerima kenyataan lain: bahwa bahkan di hari kemenangan, hidup tetap menyelipkan perpisahan.

Duka itu datang nyaris bersamaan, seperti dua halaman sejarah yang ditutup dalam waktu yang berdekatan.

Senin pagi, 23 Maret 2026, pukul 07.30 WIB, Tamanhuri bin Hakim Raja Hukum berpulang di Jakarta. Sosok yang pernah memimpin Way Kanan selama dua periode (2000–2010) itu bukan hanya bagian dari keluarga, tetapi juga bagian dari perjalanan daerah—seorang yang pernah memegang arah di tengah harapan banyak orang.

Rumah duka di Jalan Sultan Agung, Way Halim, Bandar Lampung, kini dipenuhi bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh kenangan—tentang langkah-langkah yang pernah ia tempuh bersama masyarakat.

Namun kehilangan itu ternyata telah lebih dulu hadir.

Sehari sebelumnya, Minggu sore, 22 Maret 2026, Mozes Herman bin Muchtar Abisiri mengembuskan napas terakhir di RSUD Abdul Moeloek. Ia adalah Wali Kota Metro pertama (2000–2005), sosok perintis yang membangun fondasi sebuah kota dari titik awal—dengan keberanian, keyakinan, dan kerja yang tak selalu mudah.

Di rumah duka di Jalan Sumpah Pemuda, doa-doa mengalir tanpa jeda. Kisah tentang seorang pelopor kembali dikenang, pelan-pelan, di antara suara yang lirih dan langkah yang tertahan.

Dua nama. Dua waktu. Dua pemimpin.
Datang silih berganti dalam jarak yang begitu dekat—seakan sejarah pun memilih berduka dalam satu tarikan napas.

Takbir tetap menggema di langit Lampung. Namun di sela-selanya, ada isak yang ditahan. Ada kenangan yang datang tiba-tiba, tanpa diundang.

Keluarga besar kedua almarhum dengan kerendahan hati memohon maaf atas segala khilaf semasa hidup. Sebab pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar jabatan, melainkan jejak—yang hidup dalam ingatan, juga dalam cerita yang terus diwariskan.

Dan kita yang mendengar kabar ini memahami satu hal sederhana: kehilangan tidak pernah memilih waktu.

Ia datang—bahkan di hari kemenangan.

Lampung pun belajar lagi, bahwa di balik gema kemenangan, selalu ada ruang sunyi yang mengajarkan arti menerima. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *