Oleh: Maruf Abidin
Pecinta Sepakbola dan Anggota Sikambara
BANDAR LAMPUNG – Laga Bhayangkara Presisi Lampung FC kontra PSIM Yogyakarta yang akan digelar Jumat (17/04/2026) di Stadion PKOR Way Halim, Bandar Lampung, justru menghadirkan fenomena berbeda. Jelang pertandingan, suasana terbilang adem ayem, jauh dari euforia seperti saat menghadapi klub besar.
Hingga H-2 pertandingan, penjualan tiket terpantau berjalan lambat. Kondisi ini kontras dengan momen ketika Bhayangkara menjamu Persija Jakarta, di mana tiket ludes hanya dalam waktu kurang dari satu jam dan stadion penuh sesak oleh penonton.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa tingkat kehadiran suporter masih sangat dipengaruhi oleh “nama besar” lawan yang dihadapi. Dalam beberapa musim terakhir, hanya laga melawan klub seperti Persija dan Persib Bandung yang mampu menyedot animo luar biasa dari masyarakat.
Pertanyaannya, bagaimana dengan PSIM?
Minimnya pergerakan penjualan tiket menjadi indikator bahwa laga ini belum memiliki daya tarik kuat bagi sebagian penonton. Di sinilah muncul pertaruhan besar bagi manajemen untuk mengidentifikasi basis suporter sejati Bhayangkara Presisi Lampung.
Momentum ini dinilai sebagai ajang pembuktian siapa yang benar-benar Bhayangkaramania—suporter loyal yang tetap hadir tanpa memandang siapa lawannya—dan siapa yang hanya datang ketika laga menghadirkan klub besar.
“Ini menjadi cermin, mana suporter sejati dan mana yang hanya musiman. Loyalitas suporter diuji di pertandingan seperti ini,” menjadi penilaian yang berkembang di kalangan pecinta sepak bola Lampung.
Para suporter setia yang tetap hadir, meski harus berpanas-panasan atau kehujanan di tribun, dinilai layak mendapatkan perhatian khusus dari manajemen. Misalnya dengan prioritas kuota tiket saat laga-laga besar dengan magnet tinggi.
Bagi mereka, loyalitas adalah harga mati. Tidak penting siapa lawannya, setiap kali Bhayangkara Presisi Lampung bertanding, dukungan harus tetap diberikan.
Laga kontra PSIM Yogyakarta pun kini bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan panggung pembuktian—siapa yang benar-benar berdiri di belakang Bhayangkara Presisi Lampung, dalam kondisi apa pun. (*).






