Lampung Selatan di Persimpangan Emas Investasi

Momentum REI Harus Jadi Lompatan Nyata, Bukan Seremonial Belaka

Kehadiran ratusan pengembang properti nasional dalam peringatan HUT ke-54 Realestat Indonesia (REI) di Lampung bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sinyal kuat bahwa Lampung Selatan tengah berada di radar utama investasi nasional. Namun, euforia ini perlu dibaca dengan jernih: apakah daerah ini benar-benar siap menjadi magnet investasi, atau sekadar menjadi panggung seremoni yang berulang tanpa dampak signifikan bagi masyarakat?

Komitmen pemerintah daerah di bawah Bupati Radityo Egi Pratama untuk membuka ruang kolaborasi dan mengusung konsep “Spirit of Krakatoa” sebagai city branding patut diapresiasi. Identitas daerah yang kuat memang menjadi kunci dalam persaingan investasi antardaerah. Namun, branding tanpa eksekusi kebijakan yang konsisten hanya akan menjadi slogan yang cepat dilupakan investor.

Di sisi lain, potensi Lampung Selatan tidak bisa dipandang sebelah mata. Akses infrastruktur strategis seperti jalan tol, kekayaan wisata Gunung Rajabasa hingga pesisir, serta kedekatan dengan ikon dunia Gunung Anak Krakatau adalah modal besar yang seharusnya sudah lama dikapitalisasi secara optimal. Kehadiran forum bisnis REI harusnya menjadi titik balik, bukan sekadar agenda foto bersama dan kunjungan lapangan.

Yang dibutuhkan kini adalah kepastian regulasi, percepatan perizinan yang transparan, serta jaminan keberlanjutan pembangunan yang tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat lokal. Tanpa itu, Lampung Selatan berisiko menjadi “etalase investasi” yang ramai dikunjungi, tetapi sepi realisasi.

Momentum REI ke-54 ini seharusnya menjadi titik tolak transformasi nyata: dari daerah potensial menjadi daerah tujuan investasi utama di Sumatera, bukan sekadar wacana yang berulang setiap tahun. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *