SIKAMBARA: LOYAL, NAMUN TERPINGGIRKAN?

Perebutan Gelar Memanas, Tapi Suara Suporter Sendiri Justru Terabaikan

Menjelang akhir musim Liga 1 Indonesia, tensi kompetisi mencapai puncaknya. Tiga raksasa—Persib Bandung, Borneo FC, dan Persija Jakarta—saling sikut memperebutkan mahkota juara. Namun, drama sesungguhnya tak hanya terjadi di papan atas. Zona degradasi justru menyajikan pertarungan hidup-mati yang tak kalah menegangkan.

Semen Padang FC dan PSBS Biak nyaris tak terselamatkan. Sementara Madura United FC, Persis Solo, dan Persijap Jepara bertarung habis-habisan demi bertahan. Dalam situasi seperti ini, tim-tim di ambang degradasi seringkali tampil lebih agresif—lebih berbahaya bagi siapa pun lawannya.

Di tengah pusaran itu, Bhayangkara Presisi Lampung FC berada di zona relatif aman. Tak cukup kuat untuk juara, namun cukup stabil untuk bertahan. Secara teknis, situasi ini ideal. Namun di balik rasa aman itu, terselip kegelisahan yang tak bisa diabaikan—datang dari kelompok yang seharusnya menjadi denyut nadi klub: suporter.

Jelang laga krusial menghadapi Persib Bandung, keresahan muncul akibat persoalan klasik: tiket. Pengalaman pahit saat melawan Persija Jakarta menjadi cermin. Tiket memang habis terjual, stadion penuh, tetapi ironisnya, banyak suporter loyal justru tak mendapatkan tempat. Fenomena ini bukan sekadar soal distribusi, melainkan soal penghargaan.

Sikambara dan El Bara—dua kelompok suporter yang selama ini setia menghidupkan atmosfer stadion—seolah hanya menjadi penonton dari luar pagar. Padahal, mereka adalah energi, identitas, bahkan wajah dari klub itu sendiri. Ketika tribun Timur Gate 5 yang berkapasitas terbatas tak lagi bisa mereka akses, pertanyaan besar pun mengemuka: masihkah loyalitas dihargai?

Sudah saatnya manajemen mengambil langkah bijak. Memberikan alokasi khusus, misalnya menjadikan Gate 5 sebagai zona eksklusif bagi suporter inti seperti Sikambara dan El Bara, bukanlah bentuk diskriminasi—melainkan pengakuan atas dedikasi. Sepak bola tanpa suporter bukan hanya sepi, tetapi kehilangan ruhnya.

Jika persoalan ini terus berulang, maka yang terancam bukan hanya kenyamanan menonton, tetapi juga ikatan emosional antara klub dan pendukungnya. Dan ketika loyalitas mulai retak, di situlah sesungguhnya krisis dimulai.

Sikambara tidak menuntut lebih. Mereka hanya ingin tidak diabaikan. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *