TIGA BESAR JANGAN DIGANGGU, LAMPUNG HARAM CUPU

Tiga besar klasemen liga diisi nama-nama besar: Persib, Borneo, dan Persija. Sorotan publik pun seolah hanya tertuju pada tiga klub raksasa itu. Sementara yang lain kerap dianggap sekadar pelengkap cerita.

Lalu, di mana posisi klub dari Lampung? Jelas bukan di tiga besar. Itulah narasi yang terus berputar di ruang-ruang percakapan netizen. Coba saja lihat—yang dibahas tak jauh dari Persib, Borneo, dan Persija, itu-itu saja.

Saat laga Bhayangkara melawan Arema, di penghujung pertandingan, ofisial Arema terlihat merangsek masuk ke lapangan. Bagaimana itu bisa terjadi? Banyak rekaman video dan foto yang masih beredar.

Ketika menghadapi Persija, ratusan massa beratribut Jakarta juga masuk ke tribun yang disebut-sebut dikhususkan bagi penonton lokal. Bendera-bendera suporter tuan rumah dicopot, lalu diganti dengan atribut Persija. Bagaimana bisa? Dokumentasinya pun masih mudah ditemukan.

Besok, Bhayangkara akan menghadapi Persib. Informasi yang beredar menyebutkan ribuan tiket telah mengalir ke Bandung. Dunia maya pun mulai dipenuhi keresahan. Pertanyaannya, Kamis nanti, Stadion Way Halim itu akan benar-benar menjadi kandang siapa?

Baiklah, semua paham: tiga besar adalah raksasa. Mengusik mereka sama saja mencari masalah, siap dihantam gelombang kritik dan hujatan.

Namun bagi Lampung, menjadi “cupu” bukanlah pilihan. Lampung adalah satu-satunya provinsi yang namanya Lampung, sukunya Lampung, bahasanya Lampung, bahkan memiliki aksara sendiri: aksara Lampung. Lalu, bagaimana dengan klub sepak bolanya?

Ada seloka tumbai yang menjadi pegangan hidup masyarakat Lampung: moniku kawai handak, nyak kawai handak munih. Orang Lampung dikenal santun, menjunjung nilai nemui nyimah. Pendatang pun diterima sebagai saudara, seangkonan.

Namun jika dianggap lemah? Itu salah besar. Lampung bukan untuk diremehkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *