BUYA ABDUL SOMAD: POLITIK TAK BISA DIPISAHKAN DARI AGAMA

Milad ke-98 PERTI Tegaskan Penguatan Tradisi, Solidaritas, dan Transformasi Menuju Satu Abad

BANDAR LAMPUNG — Politik tidak dapat dipisahkan dari agama, sebagaimana panas yang tak mungkin dilepaskan dari api. Penegasan itu disampaikan Prof. Dr. H. Buya Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D., dalam pesan utama peringatan Milad ke-98 Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), yang digelar secara nasional dan diikuti dari Ruang Rapat Utama IIB Darmajaya melalui Zoom, Selasa (5/5/2026).

Dalam khutbah milad bertema “Melanjutkan Perjuangan Syech Sulaiman Ar-Rasuli untuk Negeri: Menggenggam Erat Tradisi, Melangkah Menuju Masa Depan dalam Menyongsong Satu Abad PERTI”, Buya Abdul Somad menegaskan bahwa PERTI memiliki peran historis yang kuat dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Ia menekankan pentingnya menjaga aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan corak teologi Asy’ariyah-Maturidiyah serta konsistensi pada mazhab Syafi’i sebagai benteng tradisi keilmuan Islam. Menurutnya, sikap itu menjadi jawaban atas munculnya gerakan anti-mazhab sejak awal abad ke-20.

“PERTI bukan hanya mendirikan pesantren, tetapi juga sekolah umum yang melahirkan ilmuwan di berbagai bidang, termasuk kimia, fisika, dan matematika,” ujarnya.

Dalam refleksi perjalanannya, Buya Abdul Somad menyampaikan tujuh pokok pesan penting, termasuk dorongan agar manuskrip lama PERTI segera didigitalisasi agar mudah diakses generasi muda. Ia juga menegaskan kembali bahwa politik tidak dapat dilepaskan dari Islam.

“Siapa yang melepaskan politik dari Islam ibarat melepas panas dari api,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali konsep batang tarandam, sebagai simbol akar tradisi yang kuat. “Itu harus kita angkat kembali agar generasi muda tahu dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan melangkah,” katanya.

Sementara itu, Ketua PERTI Lampung, Dr. Ir. H. Firmansyah Y. Alfian, MBA., M.Sc., menegaskan bahwa PERTI harus mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Menurutnya, dakwah, tarbiyah, dan kontribusi sosial harus terus diperkuat.

“PERTI harus menggenggam tradisi sekaligus melangkah ke masa depan. Dakwah, tarbiyah, dan kontribusi sosial adalah jalan yang harus ditempuh,” ujarnya.

Ketua Umum PERTI Pusat, Drs. KH. Syarfi Hutauruk, M.M., dalam kesempatan yang sama menegaskan komitmen organisasi untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai ulama.

“Ilmu agama dan ilmu modern berbasis digital harus dipadukan, bukan dipertentangkan. Gerakan sosial juga harus diperkuat agar PERTI hadir nyata dalam membangun solidaritas umat dan bangsa,” katanya.

Peringatan Milad ke-98 PERTI juga diwarnai pembacaan puisi yang menggugah, mengangkat semangat perjuangan Syech Sulaiman Ar-Rasuli serta mengingatkan pentingnya menjaga warisan dakwah dan keilmuan bagi generasi penerus.

Dengan semangat “Menggenggam Tradisi, Menyambut Masa Depan”, PERTI menegaskan langkah menuju satu abad pengabdian bagi umat, bangsa, dan pendidikan Islam di Indonesia. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *