Ekonomi Lampung Tumbuh 5,58 Persen, Inflasi Terjaga Rendah

BI: Konsumsi dan Pertanian Jadi Penopang Utama, Waspadai Risiko Global

Bandarlampung — Kinerja ekonomi Provinsi Lampung pada triwulan I 2026 menunjukkan tren positif. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,58 persen (year-on-year), ditopang kuat oleh sektor pertanian serta konsumsi rumah tangga yang tetap solid.

Dalam kegiatan Bincang Bincang Media bertajuk Perkembangan serta Prospek Ekonomi dan Inflasi Provinsi Lampung di Bandar Lampung, 6 Mei 2026, Bank Indonesia memaparkan bahwa capaian tersebut menempatkan Lampung sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di Sumatra, dengan kontribusi sebesar 10,18 persen terhadap perekonomian regional.

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh signifikan sebesar 9,89 persen dan menjadi penyumbang utama. Disusul sektor perdagangan serta industri pengolahan yang turut memperkuat struktur ekonomi daerah.

Sementara dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,54 persen dan menjadi kontributor terbesar, didorong momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Idulfitri. Konsumsi pemerintah dan investasi juga mencatatkan pertumbuhan positif seiring akselerasi belanja dan pembangunan proyek strategis.

Di sisi lain, tekanan inflasi di Lampung masih relatif terkendali. Pada April 2026, inflasi tahunan tercatat hanya 0,53 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 2,42 persen. Meski demikian, secara bulanan terjadi kenaikan inflasi sebesar 0,55 persen yang dipicu oleh komoditas pangan seperti minyak goreng, beras, dan cabai merah.

Deputi Direktur KPw BI Provinsi Lampung, Ahmad Subarkah, menegaskan bahwa stabilitas inflasi yang terjaga menjadi indikator positif bagi daya beli masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi Lampung yang tetap kuat dan inflasi yang rendah menunjukkan fundamental ekonomi daerah masih solid. Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Ahmad Subarkah.

Lebih lanjut, ia mengingatkan adanya tantangan global yang perlu diantisipasi, terutama dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan biaya energi dan logistik serta memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Lampung sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,00 hingga 5,60 persen, dengan inflasi tetap dalam sasaran 2,5 ± 1 persen. Optimisme ini didukung oleh penguatan hilirisasi industri, kelanjutan proyek strategis nasional, serta peningkatan produksi sektor pertanian.

Namun demikian, risiko eksternal seperti volatilitas harga komoditas ekspor dan dinamika global tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *