Akademisi FEB UBL Ingatkan Pemerintah Soal Pemerataan, Hilirisasi dan Kualitas SDM
BANDARLAMPUNG — Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang menunjukkan tren positif dinilai menjadi sinyal kuat bahwa perekonomian daerah mulai bergerak menuju transformasi yang lebih modern dan beragam. Namun di balik capaian tersebut, tantangan pemerataan pembangunan dan penguatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan besar pemerintah daerah.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bandar Lampung, Sony Tian Dhora mengatakan, pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat, membaiknya sektor pertanian, stabilnya perdagangan, hingga meningkatnya investasi dan pembangunan infrastruktur.
“Distribusi logistik yang semakin baik juga turut mendukung aktivitas ekonomi daerah sehingga pertumbuhan ekonomi Lampung terlihat semakin positif,” ujar Sony, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Lampung karena mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada komoditas kopi, singkong, jagung, padi, dan sektor perkebunan lainnya.
Meski demikian, Sony menilai struktur ekonomi Lampung mulai mengalami perubahan dengan meningkatnya kontribusi sektor jasa, perdagangan, dan industri pengolahan.
“Ini menandakan Lampung mulai siap bertransformasi dari sektor primer menuju sektor sekunder bahkan tersier,” katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan secara merata, terutama di wilayah pedesaan yang masih menghadapi keterbatasan akses pasar, infrastruktur, lapangan kerja, dan tingkat pendapatan masyarakat.
Karena itu, pemerataan pembangunan dinilai menjadi faktor penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
“Dari sisi kualitas, pertumbuhan ekonomi Lampung sudah menunjukkan arah yang cukup baik, tetapi belum sepenuhnya inklusif. Ke depan diperlukan penguatan UMKM, ekonomi desa, dan peningkatan kualitas SDM agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas,” tegasnya.
Sony juga menyoroti sejumlah tantangan besar yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Lampung ke depan, mulai dari ketidakstabilan harga komoditas, perubahan iklim yang memengaruhi sektor pertanian, inflasi, hingga ketimpangan pembangunan antarwilayah.
Selain itu, kualitas tenaga kerja dan daya saing industri lokal juga dinilai masih perlu diperkuat agar Lampung mampu bersaing di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.
Di sisi lain, ia menilai inflasi di Lampung sejauh ini masih relatif terkendali. Namun pemerintah tetap harus menjaga daya beli masyarakat agar pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak terhadap kesejahteraan warga.
“Pertumbuhan ekonomi akan lebih berkualitas jika diikuti peningkatan pendapatan masyarakat secara nyata untuk menyeimbangkan ketika terjadinya inflasi,” ujarnya.
Sony menegaskan, investasi dan kebijakan pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kemudahan perizinan, pembangunan infrastruktur, dukungan terhadap UMKM, dan pengembangan kawasan industri disebut menjadi faktor penting yang mampu menciptakan pusat-pusat ekonomi baru.
Ia juga menilai sektor pertanian modern, industri pengolahan hasil pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, perikanan, dan logistik menjadi sektor potensial yang perlu terus dikembangkan.
“Hilirisasi produk pertanian sangat penting agar nilai tambah ekonomi tidak keluar dari daerah. Karena itu diperlukan kolaborasi pemerintah dan seluruh stakeholder untuk menghasilkan produk hilir khas Lampung yang berdaya saing,” katanya.
Sony mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap komoditas tertentu tetap menjadi risiko serius karena sangat dipengaruhi kondisi pasar global dan cuaca. Untuk itu, diversifikasi ekonomi dinilai menjadi langkah penting agar pertumbuhan Lampung lebih stabil dan berkelanjutan.
Ke depan, ia berharap pemerintah daerah fokus pada pembangunan SDM yang sesuai kebutuhan industri unggulan, penguatan industri berbasis potensi lokal, pemerataan infrastruktur, digitalisasi ekonomi, serta peningkatan investasi produktif dan berkelanjutan.
“Dengan demikian pertumbuhan ekonomi tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya. (*).






