Bandarlampung — Sekretaris Fraksi PKS DPRD Lampung sekaligus Anggota Komisi V DPRD Lampung, M. Syukron Muchtar, menegaskan perguruan tinggi harus menjadi pusat pengetahuan dan inovasi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), bukan sekadar operator teknis pelaksanaan di daerah.
Menurut Syukron, program MBG merupakan agenda besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang membutuhkan dukungan akademik, riset pangan, inovasi menu lokal, hingga sistem monitoring dan evaluasi yang kuat agar implementasi berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Program MBG ini bukan sekadar membagikan makanan kepada peserta didik. Perguruan tinggi harus ditempatkan sebagai pusat pengetahuan dan inovasi,” tegas Syukron, Kamis (7/5).
Pernyataan itu disampaikan menyusul belum jelasnya petunjuk teknis Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang masih ditunggu sejumlah kampus di daerah, termasuk di Lampung. Ia menilai percepatan program nasional tersebut belum sepenuhnya diikuti kesiapan tata kelola dan desain kelembagaan di daerah.
Secara nasional, program MBG diproyeksikan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat hingga 2029 dengan kebutuhan anggaran mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Karena itu, Syukron menilai MBG tidak bisa dijalankan hanya dengan pendekatan birokrasi administratif semata.
Ia menegaskan Lampung memiliki potensi besar menjadi model integrasi MBG berbasis pangan lokal karena didukung sektor pertanian yang kuat, mulai dari singkong, jagung, padi hingga perikanan daerah.
“MBG harus menjadi pintu masuk membangun sistem ketahanan gizi nasional sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat dan pangan lokal,” ujarnya.
Syukron juga mengingatkan tanpa basis akademik dan kebijakan berbasis riset, program MBG berisiko menghadapi persoalan kualitas layanan, ketidaktepatan sasaran hingga potensi penyimpangan tata kelola anggaran.
Karena itu, ia meminta pemerintah pusat segera memperjelas juknis SPPG dan memberikan ruang strategis bagi perguruan tinggi sebagai mitra negara dalam membangun sistem gizi nasional.
“Kalau ini dibangun serius, manfaatnya bukan hanya menurunkan stunting, tetapi juga memperkuat ekonomi desa dan kualitas generasi masa depan,” pungkasnya. (*).






