Teknik Gulung Tangan, Harga Mendunia

Vira Buktikan Sulam Usus Lampung Tembus Pasar Global

LAMPUNG SELATAN — Di tangan generasi muda, warisan budaya Lampung tak hanya bertahan, tetapi juga menembus pasar internasional. Adalah Navira Repanda Putri, mahasiswi semester dua Jurusan Psikologi Universitas Malahayati, yang sukses membawa kerajinan sulam usus khas Lampung dikenal hingga luar negeri.

Gadis yang akrab disapa Vira itu mengembangkan sulam usus dengan sentuhan fashion modern tanpa meninggalkan teknik tradisional gulung tangan yang menjadi ciri khas kerajinan tersebut.

Ditemui di kediamannya di Desa Margodadi, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, Selasa (19/5/2026), Vira mengatakan karya sulam usus buatannya kini diaplikasikan ke berbagai produk fesyen, mulai dari kebaya modern, bolero, gaun pesta, dress hingga aksesori.

“Sulam usus sekarang tidak hanya memakai benang emas klasik. Kami padukan dengan payet, kristal, serta benang metalik warna silver dan rose gold supaya tampil lebih modern dan elegan,” ujar Vira.

Meski tampil lebih kekinian, proses pengerjaannya tetap mempertahankan teknik gulung tangan secara manual. Untuk satu produk eksklusif, pengerjaan bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga tiga bulan.

Kerja telaten itu kini berbuah manis. Produk sulam usus milik Vira tak hanya diminati pasar lokal Lampung dan Pulau Jawa, tetapi juga mulai merambah pasar internasional seperti Singapura, Taiwan, dan Hongkong.

Pesanan yang terus berdatangan membuat sulam usus Lampung semakin dikenal sebagai kerajinan khas bernilai seni tinggi dengan daya saing global.

Salah satu pengrajin sulam usus di Desa Margodadi, Putri Indah Sari, mengatakan seluruh proses produksi hingga kini masih dilakukan secara manual demi menjaga kualitas dan detail karya.

“Proses manual memang lebih lama, tapi hasilnya lebih rapi, detail, dan memiliki nilai seni tinggi,” katanya.

Menurut para pengrajin, keberadaan anak muda seperti Vira menjadi harapan baru bagi pelestarian sulam usus Lampung di tengah derasnya arus produk modern pabrikan. Selain menjaga budaya daerah, kerajinan tersebut juga membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat desa.

Kini, sulam usus bukan lagi sekadar kain tradisional, melainkan karya mode etnik bernilai tinggi yang mampu membawa nama Lampung ke panggung dunia. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *