LIMA BESAR, EUFORIA BESAR — TAPI MASIH NUMPANG NAMA DAN AMBISI

Bhayangkara Presisi Lampung FC menutup musim dengan finis di posisi lima. Sebuah capaian yang, di atas kertas, layak dirayakan. Klub baru “menumpang” di Lampung, langsung masuk papan atas Liga 1, bahkan sempat membuat publik percaya bahwa sepak bola daerah ini akhirnya punya masa depan. Stadion ramai, media sosial penuh pujian, dan ucapan “terima kasih Lampung” pun bertebaran.

Tapi pertanyaannya sederhana: selesai di lima besar, lalu apa?

Publik Lampung tentu senang timnya menang. Namun publik juga tidak bodoh. Mereka tahu bedanya klub yang benar-benar tumbuh dari tanah Lampung dengan klub yang sekadar singgah sambil membawa identitas institusi. Jangan sampai euforia lima besar hanya jadi kosmetik prestasi untuk menutupi fakta bahwa fondasi sepak bola Lampung sendiri masih compang-camping.

Ucapan “diterima dengan baik oleh masyarakat Lampung” memang terdengar manis. Tapi penerimaan publik tidak boleh dibalas hanya dengan konten perpisahan akhir musim dan janji “target baru”. Yang ditunggu masyarakat bukan sekadar slogan perjuangan, melainkan keberanian membangun akar: akademi, pembinaan usia muda, identitas lokal, dan keberpihakan pada talenta Lampung yang selama ini lebih sering jadi penonton di rumah sendiri.

Finis kelima memang hebat. Tapi dalam sepak bola profesional, klasemen bukan hanya soal angka — melainkan juga soal warisan. Dan sejauh ini, Bhayangkara Presisi Lampung FC masih terlihat lebih sibuk memburu hasil cepat daripada membangun jiwa klub yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Lampung terlalu sering dijadikan pasar penonton. Datang ketika butuh dukungan, pergi ketika kepentingan berubah. Maka musim depan, publik tidak cuma ingin melihat target lebih tinggi. Publik ingin bukti: apakah klub ini benar-benar ingin menjadi milik Lampung, atau sekadar numpang sukses sebelum pindah mencari panggung lain.

Karena lima besar tanpa identitas lokal yang kuat, pada akhirnya hanya akan dikenang sebagai statistik — bukan sejarah. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *