Endro S Yahman: Cocok untuk Pot Rumah, Sulit Diterapkan Skala Massal
BANDARLAMPUNG — Kebijakan Pemprov Lampung mengganti sebagian bahan baku Pupuk Organik Cair (POC) dari air kelapa menjadi air cucian beras atau air leri mulai menuai kritik. Pengamat lingkungan sekaligus mantan anggota DPR RI, Endro S. Yahman, menilai langkah tersebut keliru jika diterapkan untuk kebutuhan produksi massal pertanian.
Menurut Endro, penggunaan air leri memang terbukti bermanfaat untuk tanaman dalam skala kecil. Namun, ia mempertanyakan kelayakan kebijakan itu jika diproyeksikan menjadi program besar untuk kebutuhan petani Lampung.
“Air cucian beras menjadi pupuk cair itu jalan yang keliru kalau diterapkan skala massal. Ini cara berpikir ilmuwan laboratorium, bukan pendekatan teknokratik maupun teknologi tepat guna yang murah, mudah bahan bakunya, dan berkelanjutan,” kritik Endro, Minggu (24/5/2026).
Sebelumnya, Pemprov Lampung melalui Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) melakukan reformulasi bahan baku pupuk hayati akibat sulitnya memperoleh air kelapa dalam jumlah besar. Air leri dipilih sebagai alternatif karena dinilai memiliki kandungan organik yang dibutuhkan dalam proses fermentasi pupuk cair.
Namun, Endro menilai persoalan utama bukan pada manfaat air leri, melainkan pada ketersediaan bahan baku jika program dijalankan dalam skala luas.
“Betul air cucian beras bisa menyuburkan tanaman. Tapi yang disoal adalah kelayakan diterapkan di lapangan untuk produksi massal. Ilmuwan biasanya berpikir skala kecil,” ujarnya.
Ia menyarankan pemerintah lebih fokus memanfaatkan limbah organik yang melimpah dan selama ini belum dimaksimalkan, seperti sampah organik rumah tangga, limbah cair program MBG, hingga limbah industri singkong.
“Kenapa tidak memanfaatkan sesuatu yang ada di depan mata seperti sampah, limbah MBG, atau limbah cair pabrik singkong dijadikan pupuk cair? Itu justru lebih realistis daripada membangun IPAL mahal,” tegasnya.
Endro bahkan menyebut air leri lebih tepat digunakan dalam skala rumah tangga atau kebun kecil, seperti yang selama ini dilakukan ibu-ibu PKK untuk tanaman pekarangan.
“Ibu-ibu PKK diajari air cucian beras untuk tanaman pot itu bagus. Tapi kalau untuk kebutuhan pertanian massal tentu berbeda persoalannya,” katanya.
Meski demikian, Pemprov Lampung tetap optimistis reformulasi pupuk organik berbasis bahan alami akan menjadi solusi mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia mahal.
Di sisi lain, muncul pula inovasi pupuk berbasis maggot dari kelompok tani Lampung Timur yang mulai dilirik pemerintah provinsi untuk dikembangkan lebih luas sebagai alternatif pupuk organik berkelanjutan. (*).






