Nobar Remontada

Semalam sejumlah warga ikut nonton bareng (nobar) Piala Dunia Antarklub di Pasar Seni Way Halim. Acara dimulai pukul 21.00 WIB, sementara kick-off pertandingan Inggris melawan Kongo berlangsung pukul 23.00 WIB.

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, tiba sekitar pukul 22.00 WIB. Sebelum pertandingan dimulai, ia sempat menghibur pengunjung dengan menyanyikan lagu Separuh Nafas. Meski mengaku menjagokan Jerman, untuk prediksi laga malam itu Jihan kompak dengan Marindo Kurniawan: Inggris akan menang.

Pilihan yang sama juga diungkapkan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan. Namun, tak sedikit pula penonton yang mendadak mengaku sebagai pendukung Kongo.

Suasana nobar berlangsung meriah. Banyak pejabat Pemerintah Provinsi Lampung hadir, mulai dari kepala dinas, kepala badan, kepala biro, hingga berbagai tamu undangan lainnya. Biasanya, kalau pimpinan datang, staf pun ikut meramaikan. Paling tidak, setor muka. “Siap, Kanda… siap, Bos… siap, Komandan… siap, Kakak,” begitu kira-kira suasana yang terasa.

Saat pertandingan berlangsung, Inggris justru lebih dulu kebobolan. Sontak berbagai komentar jenaka bermunculan dari penonton. Ada yang berseloroh Kongo malam itu “dibeking orang pintar”. Bahkan, beberapa kepala UPTD bercanda menyebut Kongo membawa “jimat” dari orang pintar bergelar S-3. Tentu saja semua itu sekadar gurauan khas penonton sepak bola.

Tak lama setelah gol pertama Kongo, Jihan Nurlela pamit meninggalkan lokasi nobar.

Menonton sepak bola memang selalu menghadirkan istilah-istilah menarik. Hampir semua orang di dunia paham arti kata “gol”. Entah penutur bahasa Lampung di Kalianda, bahasa Jawa, hingga bahasa Arab, saat bola masuk ke gawang teriakannya tetap sama: “Gol!”

Lalu ada istilah lain yang belakangan sering terdengar, yakni remontada. Ketika sebuah tim tertinggal hingga menit ke-75, lalu mampu membalikkan keadaan dan memastikan kemenangan menjelang laga usai, itulah yang disebut remontada. Dua gol Harry Kane dalam pertandingan itu bahkan disebut sebagai brace.

Istilah remontada berasal dari bahasa Spanyol yang secara harfiah bermakna “bangkit kembali” atau “membalikkan keadaan”. Dalam sepak bola, kata ini digunakan untuk menggambarkan tim yang mampu melakukan comeback dari situasi yang tampak hampir mustahil. Semangatnya identik dengan pantang menyerah.

Malam itu, Kongo menjadi korban remontada Inggris. Harry Kane tampil sebagai penentu kemenangan. Dramatis, emosional, sekaligus menghibur.

Kalau masih kurang puas dengan drama remontada, laga Belgia kontra Senegal bahkan lebih gila lagi. Skor akhir 3-2. Senegal sempat unggul 2-0 hingga penghujung babak kedua, tetapi Belgia berhasil membalikkan keadaan.

Tadi malam, dua wakil Afrika—Kongo dan Senegal—sama-sama menjadi korban REMONTADA.

Begitulah sepak bola. Selalu menyimpan cerita yang tak pernah benar-benar berakhir sebelum peluit panjang dibunyikan.Jika akan dimuat sebagai kolom di surat kabar, tulisan ini sudah lebih mengalir, rapi, dan tetap mempertahankan nuansa humor serta gaya bertutur penulis. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *