SAYEMBARA TAPIR PICU SOROTAN

Unggahan Bupati Mesuji Viral, Kebijakan Dinilai Perlu Berbasis Kajian Konservasi

MESUJI – Unggahan mengenai sayembara penangkapan tapir hidup-hidup dengan hadiah Rp50 juta yang dikaitkan dengan Bupati Mesuji menjadi perbincangan luas di media sosial. Informasi tersebut menuai beragam respons, mulai dari dukungan warga yang khawatir terhadap keberadaan satwa liar hingga kritik yang mempertanyakan dasar kebijakan tersebut.

Percakapan publik berkembang setelah beredar unggahan di media sosial yang menyebut adanya hadiah bagi siapa pun yang berhasil menangkap tapir hidup-hidup. Sejumlah warganet mempertanyakan apakah satwa dilindungi itu benar-benar berkeliaran di permukiman warga atau hanya melintas di kawasan yang berbatasan dengan habitat alaminya.

Dalam diskusi yang beredar di aplikasi pesan, muncul komentar yang menyebut kemungkinan adanya kesalahpahaman mengenai habitat tapir. “Dia mengira tapir berkeliaran dan hidup di kampung-kampung,” tulis salah satu komentar yang kemudian ikut tersebar di media sosial. Komentar lain menyebut, “Masuk akal bisa jadi seperti itu pemikirannya.”

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, berbagai kalangan menilai penanganan konflik antara manusia dan satwa liar semestinya mengedepankan kajian ilmiah serta melibatkan instansi yang berwenang di bidang konservasi. Pendekatan berbasis mitigasi dinilai lebih tepat dibanding langkah yang berpotensi memicu risiko terhadap satwa maupun masyarakat.

Kasus ini menjadi perhatian publik sekaligus mengingatkan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, aparat, dan lembaga konservasi dalam menangani kemunculan satwa liar agar keselamatan warga tetap terjaga tanpa mengabaikan upaya pelestarian satwa yang dilindungi. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *