Tradisi, Kehormatan, dan Ruang Publik
Di tengah derasnya arus informasi, sebuah prosesi adat kembali mengingatkan bahwa Lampung memiliki warisan budaya yang hidup. Penganugerahan gelar kehormatan kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bukan hanya menjadi seremoni, tetapi juga memantik percakapan panjang di ruang publik.
Ada yang memandangnya sebagai bentuk penghormatan terhadap pemimpin daerah. Ada pula yang mempertanyakan makna dan dampaknya. Perbedaan pandangan itu mengalir dari grup percakapan hingga media sosial, memperlihatkan bahwa adat masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
Bagi masyarakat adat Lampung, pemberian gelar bukan sekadar penyematan nama. Di baliknya terdapat tata titi adat, musyawarah, serta nilai-nilai penghormatan yang diwariskan turun-temurun. Tradisi mengangkat saudara (mewaghi) dan pemberian gelar (adok) merupakan bagian dari identitas budaya yang telah lama dijaga.
Sejumlah tokoh mengingatkan agar persoalan adat tidak dicampuradukkan dengan kepentingan politik. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam masyarakat demokratis, tetapi penyampaiannya tetap harus mengedepankan etika dan saling menghormati.
Di sisi lain, perdebatan ini juga menjadi pengingat bahwa media sosial mampu mempercepat penyebaran opini. Kalimat yang ditulis tanpa pertimbangan dapat berkembang menjadi polemik yang meluas. Karena itu, kedewasaan dalam menyampaikan pendapat menjadi sama pentingnya dengan kebebasan berekspresi.
Sesungguhnya, yang lebih penting dari sebuah gelar adalah nilai yang menyertainya. Gelar adat membawa harapan agar penerimanya mampu menjaga amanah, menghormati budaya, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lampung telah lama dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi falsafah Piil Pesenggiri, yang mengajarkan harga diri, penghormatan kepada sesama, musyawarah, dan semangat bergotong royong. Nilai-nilai itulah yang seharusnya tetap menjadi pijakan ketika masyarakat menyikapi setiap perbedaan.
Pada akhirnya, gelar adat boleh menjadi bahan diskusi. Namun, menjaga marwah adat, menghormati perbedaan pendapat, dan merawat persatuan adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah gelar.Feature ini disusun dengan gaya headline halaman satu koran: mengangkat sisi human interest, reflektif, tidak menghakimi, dan tetap berlandaskan prinsip keberimbangan serta etika jurnalistik. (*).






