Oleh: Watoni Noerdin, S.H., M.H.
Peristiwa Sabtu Kelabu yang kemudian lebih dikenal sebagai Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) 27 Juli 1996 memiliki arti yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Peristiwa ini menjadi pintu gerbang menuju Reformasi 1998.
Tanpa peristiwa 27 Juli 1996, mungkin tidak akan ada momentum bersejarah pada 21 Mei 1998, saat Presiden Soeharto mengakhiri 32 tahun kekuasaannya. Berikut makna penting yang patut kita ingat:
1. Titik Balik Perlawanan Terbuka terhadap Orde Baru
Sebelum 1996, kekuasaan Soeharto nyaris tak tersentuh. Penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta, oleh aparat bersama massa pendukung Soerjadi yang mengakibatkan korban jiwa, puluhan orang luka-luka, dan sejumlah orang hilang, justru membuka mata rakyat bahwa rezim Orde Baru telah menggunakan kekerasan untuk membungkam oposisi yang sah.
Sejak saat itu, perlawanan terhadap Soeharto menjadi pembicaraan luas di berbagai lapisan masyarakat dan mulai dilakukan secara terbuka.
2. Melahirkan Simbol Persatuan Oposisi
Pasca-Kudatuli, berbagai kelompok yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri mulai bersatu. PDI Pro-Megawati, PRD, mahasiswa, aktivis HAM, tokoh NU dan Muhammadiyah seperti Gus Dur dan Amien Rais, para seniman, hingga kaum buruh berkumpul dalam berbagai mimbar bebas di Kantor PDI.
Persatuan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal koalisi Mega-Bintang, yang berkembang menjadi kekuatan politik besar menjelang Reformasi 1998.
3. Mengangkat Megawati sebagai Ikon Demokrasi
Megawati Soekarnoputri yang sebelumnya dikenal sebagai sosok pendiam berubah menjadi simbol perlawanan moral setelah kantor partainya diserbu. Gelombang simpati, baik dari dalam maupun luar negeri, terus mengalir.
Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak yang mengantarkannya menjadi Presiden ke-5 Republik Indonesia pada tahun 2001 serta memperkuat posisi PDI Perjuangan sebagai salah satu partai politik terbesar di Indonesia.
4. Membuka Mata Dunia Internasional
Peristiwa Kudatuli mendapat sorotan luas dari media internasional sebagai bentuk pelanggaran demokrasi dan hak asasi manusia. Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai memberikan tekanan terhadap pemerintah Indonesia terkait isu HAM.
Sejak itu pula, berbagai kasus penculikan aktivis pada periode 1996–1998 mulai mendapat perhatian serius dan didokumentasikan oleh Komnas HAM.
5. Pelajaran Berharga bagi Demokrasi Indonesia
Setiap tanggal 27 Juli diperingati bukan sebagai sebuah perayaan, melainkan sebagai pengingat bahwa:
Demokrasi harus terus dijaga karena tidak hadir dengan sendirinya.
Kekerasan negara untuk kepentingan politik tidak boleh terulang.
Keadilan bagi para korban dan keluarganya harus terus diperjuangkan hingga tuntas.
Penutup
Singkatnya, Kudatuli merupakan alarm terakhir bagi Orde Baru. Peristiwa ini menyadarkan rakyat bahwa jika terus diam, kekuasaan akan semakin represif. Dari kesadaran itulah lahir gelombang perlawanan yang dua tahun kemudian berhasil mengakhiri 32 tahun pemerintahan Orde Baru dan membuka era Reformasi di Indonesia. (*).






