Ekspor Lampung Tetap Perkasa, Daya Beli Petani Membaik
Bandarlampung – Kinerja perekonomian Provinsi Lampung kembali menunjukkan sinyal positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat neraca perdagangan luar negeri pada Juni 2026 membukukan surplus US$533,60 juta, ditopang tingginya nilai ekspor yang mencapai US$646,28 juta, sementara impor hanya US$112,68 juta.
Meski nilai ekspor secara kumulatif Januari–Juni 2026 turun tipis 1,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kinerja perdagangan tetap solid karena impor turun jauh lebih dalam, yakni 28,16 persen.
Amerika Serikat, Tiongkok, dan Belanda menjadi tiga tujuan utama ekspor Lampung, dengan komoditas unggulan berupa lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, serta kopi, teh, dan rempah-rempah.
Pranata Komputer Ahli Madya BPS Provinsi Lampung, Hermawan Prasetyo, mengatakan surplus perdagangan tersebut menunjukkan daya saing ekspor Lampung masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
“Nilai ekspor yang tetap tinggi diiringi penurunan impor menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar US$533,60 juta. Kondisi ini menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri Provinsi Lampung masih kuat dan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah,” ujar Hermawan saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (3/8).
Tak hanya perdagangan, perkembangan harga di Lampung juga relatif terkendali. Pada Juli 2026, Lampung mengalami deflasi bulanan 0,49 persen, terutama dipicu turunnya harga bawang merah, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan tomat. Sementara inflasi tahunan tercatat 1,76 persen, lebih rendah dibandingkan Juni 2026 maupun Juli tahun lalu.
Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) naik menjadi 132,64 atau meningkat 2,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong kenaikan harga gabah, kopi, dan kakao yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya produksi.
“Kenaikan Nilai Tukar Petani menunjukkan harga yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan harga yang harus dibayar. Artinya, daya beli petani Lampung mengalami perbaikan, terutama pada subsektor perkebunan rakyat, tanaman pangan, dan perikanan,” jelas Hermawan.
Sektor pariwisata juga memperlihatkan tren menggembirakan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang naik menjadi 49,77 persen, sedangkan hotel nonbintang mencapai 27,43 persen pada Juni 2026. Peningkatan tersebut dipengaruhi momentum libur sekolah, kegiatan pemerintahan, dan aktivitas MICE yang meningkat.
Di bidang transportasi, lonjakan paling tinggi terjadi pada angkutan laut. Jumlah penumpang melalui Pelabuhan Bakauheni meningkat 50,22 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 70.867 penumpang. Angkutan udara melalui Bandara Radin Inten II juga tumbuh 3,90 persen secara tahunan, sementara penumpang kereta api meningkat 13,23 persen dibandingkan Juni 2025.
Hermawan menilai pergerakan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat terus menguat.
“Mobilitas masyarakat pada Juni meningkat seiring liburan sekolah dan aktivitas pariwisata. Hal ini tercermin dari lonjakan penumpang angkutan laut serta pertumbuhan yang tetap positif pada moda udara dan kereta api,” pungkasnya. (*)






