PKS Dorong Tradisi Keilmuan dan Ukhuwah Lintas Latar Belakang Dakwah
Bandar Lampung – Pemandangan berbeda tersaji di Gedung Serbaguna (GSG) DPW PKS Lampung, Sabtu (1/8). Para ulama, asatidz, dai, dan penuntut ilmu dari berbagai latar belakang organisasi dan dakwah berkumpul dalam satu majelis mengikuti Dauroh Ilmu Mantiq yang menghadirkan Sheikh Abdur Razzaq An Najm, ulama asal Damaskus, Suriah.
Majelis tersebut tidak sekadar menjadi forum kajian keislaman, tetapi juga menjadi simbol upaya memperkuat ukhuwah Islamiyah melalui tradisi keilmuan di tengah beragam dinamika umat.
Ketua DPW PKS Lampung sekaligus Anggota DPRD Provinsi Lampung, Ade Utami Ibnu, mengatakan menghadirkan ulama internasional merupakan bagian dari ikhtiar membangun ekosistem keilmuan Islam yang lebih kuat di Lampung.
“Kami ingin PKS menjadi ruang yang mempertemukan para ulama dan asatidz untuk saling menguatkan. Ketika para pewaris ilmu duduk bersama dalam satu majelis, yang tumbuh bukan hanya pengetahuan, tetapi juga ukhuwah yang menjadi fondasi kekuatan umat,” ujar Ade.
Menurutnya, kemajuan umat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya aktivitas dakwah, tetapi juga oleh kuatnya tradisi belajar, penghormatan kepada ulama, serta kemampuan membangun persaudaraan di atas nilai-nilai ilmu.
Ade menambahkan, kegiatan tersebut terlaksana berkat sinergi berbagai pihak, termasuk dukungan Presiden PKS Muzzammil Yusuf, yang mendorong lahirnya ruang-ruang pembinaan umat melalui majelis ilmu. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dengan menghadirkan para masyayikh dari Timur Tengah untuk mengkaji kitab-kitab turats secara berkesinambungan.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Budi Suseno menjelaskan dauroh memiliki tiga tujuan utama, yakni mempertemukan ulama dan asatidz dalam satu majelis ilmu, memperkuat sinergi antarpendakwah, serta memperdalam pemahaman ilmu mantiq sebagai fondasi berpikir logis dalam memahami disiplin ilmu Islam.
“Ilmu mantiq menjadi bekal penting bagi para penuntut ilmu untuk memahami literatur klasik para ulama secara runtut, logis, dan bertanggung jawab. Melalui majelis ini kami ingin memperkuat tradisi keilmuan sekaligus ukhuwah di kalangan para dai dan asatidz,” kata Budi.
Pemilihan ilmu mantiq dinilai relevan dengan tantangan zaman ketika arus informasi dan beragam pandangan keagamaan berkembang sangat cepat. Fondasi berpikir yang benar, metodologi, adab, serta sanad keilmuan menjadi bekal penting agar perbedaan dapat disikapi secara bijaksana.
Dauroh tersebut diharapkan menjadi awal lahirnya tradisi keilmuan yang semakin kuat di Lampung. Dengan menghadirkan ulama berotoritas dari Timur Tengah, majelis ilmu tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga wahana membangun kepercayaan, kolaborasi, dan persaudaraan di antara para ulama, dai, serta penuntut ilmu demi kemajuan umat. (*)






