Dekan FEB Unila: Stabilitas Harga Masih Rapuh, El Nino dan Defisit Hortikultura Bisa Picu Lonjakan Inflasi
Bandar Lampung – Capaian inflasi Provinsi Lampung yang menjadi terendah di Sumatera mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Namun, Guru Besar Ilmu Ekonomi Publik sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Prof. Dr. Nairobi, S.E., M.Si, mengingatkan agar pemerintah tidak terlalu cepat menganggap keberhasilan tersebut sebagai bukti kuatnya fondasi ekonomi daerah.
Menurutnya, rendahnya inflasi saat ini masih sangat dipengaruhi faktor musiman, terutama panen dan melimpahnya pasokan komoditas pangan. Selama komoditas seperti bawang merah dan cabai masih menjadi penentu utama pergerakan inflasi, stabilitas harga di Lampung dinilai tetap rentan terhadap perubahan cuaca maupun gangguan distribusi.
“Inflasi rendah Lampung patut diapresiasi, tetapi jangan buru-buru disimpulkan sebagai kemenangan struktural. Dalam kenyataannya, rendahnya inflasi daerah seperti Lampung sering kali lebih mencerminkan musim panen dan limpahan pasokan jangka pendek daripada keberhasilan fundamental dalam membangun sistem pangan yang tahan guncangan,” kata Nairobi, Rabu (5/8).
Ia menilai ancaman El Nino dan masih terjadinya defisit produksi hortikultura harus menjadi perhatian serius. Menurutnya, satu musim kering yang berkepanjangan atau terganggunya distribusi dapat mengubah kondisi inflasi rendah menjadi lonjakan harga dalam waktu singkat.
“Problem utama Lampung bukan sekadar mengendalikan harga di hilir, melainkan memperkuat ketahanan produksi di hulu. Tanpa perbaikan sisi penawaran, inflasi rendah hari ini bisa menjadi ilusi yang mudah pecah besok,” tegasnya.
Nairobi juga menyoroti masih tingginya ketergantungan Lampung terhadap pasokan bawang merah dan cabai dari daerah lain. Kondisi tersebut menunjukkan ketahanan pangan daerah belum sepenuhnya kuat.
Menurutnya, daerah yang masih mengalami defisit komoditas strategis belum dapat dikatakan benar-benar tangguh karena ketahanan pangan diukur dari kemampuan menjaga ketersediaan saat terjadi guncangan, bukan hanya kecukupan pasokan pada kondisi normal.
Ia turut menilai program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita memang efektif meredam gejolak harga dalam jangka pendek. Namun, kebijakan tersebut tidak dapat dijadikan solusi permanen.
“Program SPHP dan Minyakita memang penting, tetapi keduanya hanya instrumen penahan gejolak, bukan solusi struktural. Jika terlalu lama mengandalkan operasi pasar tanpa memperkuat basis produksi, pemerintah hanya akan terus mengejar gejolak harga dari belakang, bukan mencegahnya sejak awal,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah lebih fokus pada peningkatan produktivitas pertanian, penguatan infrastruktur logistik, serta pembenahan tata niaga komoditas pangan agar stabilitas harga dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
“Tantangan Lampung bukan sekadar mempertahankan inflasi rendah, melainkan mempertahankannya dengan cara yang sehat secara ekonomi. Inflasi yang terlalu rendah memang menyenangkan konsumen, tetapi bila dicapai dengan menekan harga di tingkat petani, maka yang dibangun hanyalah stabilitas semu. Kebijakan yang baik harus mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan petani tetap memperoleh insentif yang layak untuk terus menanam. Itulah ukuran stabilitas harga yang benar-benar berkelanjutan,” pungkasnya. (*).






