FESTIVAL KRAKATAU DIDORONG NAIK KELAS

Belajar dari F8 Makassar dan Cap Go Meh, Festival Lampung Harus Punya Magnet Baru

BANDAR LAMPUNG – Festival daerah dinilai perlu terus berinovasi agar tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Lampung didorong melakukan evaluasi dan merancang kembali konsep festival dengan mengedepankan kekuatan tradisi, komunitas, kreativitas anak muda serta potensi sejarah dan pariwisata daerah.

Dorongan itu mencuat dari telaah terhadap data Kalender Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Berdasarkan keterangan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardana dalam RDP Komisi VII DPR, 4 Februari 2026, dari 110 festival usulan pemerintah daerah dan komunitas yang lolos kurasi KEN 2025, sebanyak 99 event terealisasi, sedangkan 11 lainnya batal digelar karena efisiensi anggaran, anjuran Kemendagri, kondisi keamanan dan bencana.

Dari 99 event tersebut, total kunjungan tercatat lebih dari 10,8 juta orang. Dua magnet terbesar adalah Festival Cap Go Meh Singkawang dengan lebih dari 500 ribu pengunjung dan F8 Makassar yang mendekati 500 ribu pengunjung.

Fenomena tersebut menunjukkan kekuatan festival tidak semata ditentukan oleh promosi digital atau jumlah pengikut media sosial. Festival yang memiliki identitas kuat, tradisi yang hidup dan keterlibatan komunitas mampu membangun basis pengunjung loyal.

F8 Makassar menjadi contoh menarik. Festival tersebut menggabungkan delapan subsektor, yakni fesyen, film, flora-fauna, kuliner, literasi, musik, seni pertunjukan dan seni rupa dalam satu bingkai. Komunitas ditempatkan sebagai bagian penting dari keseluruhan ekosistem festival.

BELAJAR DARI JAKARTA FAIR

Model lain terlihat pada Jakarta Fair/Pekan Raya Jakarta. Dalam lima tahun penyelenggaraan 2022-2026, event tersebut disebut mencatat sekitar 31,5 juta pengunjung dengan total omset atau nilai transaksi mencapai Rp37,6 triliun.

Rinciannya, 2022 sebanyak 6,9 juta pengunjung dengan nilai transaksi Rp7,3 triliun; 2023 sebanyak 6,3 juta dengan Rp7,3 triliun; 2024 sebanyak 6,3 juta dengan Rp7,5 triliun; 2025 sebanyak 5,9 juta dengan Rp7,3 triliun; dan 2026 mencapai 6,1 juta pengunjung dengan nilai transaksi Rp8,2 triliun.

Kekuatan Jakarta Fair antara lain terletak pada kesinambungan identitas event, kanal informasi yang konsisten serta kemampuan mempertemukan perdagangan, hiburan dan pengalaman pengunjung dalam satu ekosistem.

KRAKATAU JANGAN SEKADAR SEREMONIAL

Dalam konteks Lampung, pengalaman tersebut dinilai relevan untuk mengevaluasi kembali konsep Festival Krakatau. Festival yang telah menjadi salah satu agenda pariwisata Lampung tersebut didorong agar terus menemukan kebaruan tanpa meninggalkan identitas sejarah dan budaya daerah.

Sejumlah gagasan bahkan dapat dikembangkan dengan menjadikan Krakatau sebagai narasi global, bukan semata lokasi atau nama festival. Misalnya festival film bertema Krakatau, festival drone, kunjungan situs sejarah, triatlon Krakatau hingga history telling yang menghadirkan narasumber dari negara-negara yang memiliki sejarah keterkaitan dengan letusan Krakatau 1883.

Narasi tersebut dapat dikembangkan menjadi cerita mengenai dampak letusan Krakatau terhadap berbagai wilayah dunia, sehingga festival tidak hanya menjual hiburan, tetapi juga sejarah, pengetahuan, budaya, kreativitas dan pengalaman wisata.

Lampung juga dinilai perlu memperbanyak kegiatan yang benar-benar melibatkan komunitas lokal. Konsep festival seharusnya dirumuskan dari A-Z melalui kajian dan forum diskusi bersama pelaku pariwisata, komunitas, akademisi, seniman, pelaku UMKM, anak muda serta pemerintah.

Tujuannya bukan sekadar membuat festival semakin ramai, tetapi membangun brand event yang ditunggu, memiliki karakter dan mampu menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Festival Krakatau XXXV sendiri telah mengusung perpaduan wisata, budaya, kuliner dan kreativitas anak muda. Tantangannya kini adalah bagaimana setiap penyelenggaraan berikutnya menghadirkan kebaruan yang membuat wisatawan memiliki alasan kuat untuk kembali datang.

Jika festival hanya mengulang pola yang sama setiap tahun, daya tariknya berisiko menurun. Sebaliknya, inovasi yang tetap berpijak pada identitas lokal dapat menjadikan Festival Krakatau sebagai event unggulan Lampung yang memiliki daya tarik nasional bahkan internasional. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *