Promosi Harus Setahun Sebelumnya, Event Wajib Terhubung dengan Gunung Anak Krakatau
Bandarlampung – Festival Krakatau (FK) XXXV Tahun 2026 dinilai perlu dievaluasi agar tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi benar-benar mampu menarik wisatawan nusantara dan mancanegara sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Akademisi Universitas Lampung, Dr. Ir. Citra Persada, M.Sc., menilai salah satu persoalan mendasar FK 2026 adalah kepastian agenda yang dinilai terlalu dekat dengan hari pelaksanaan. Padahal, sebuah event pariwisata berskala besar membutuhkan waktu promosi yang panjang agar wisatawan dapat merencanakan perjalanan.
“Suatu event pariwisata seperti Festival Krakatau sejatinya disiapkan untuk menarik wisatawan datang ke Lampung. Karena itu, minimal satu tahun sebelumnya sudah harus pasti tanggal pelaksanaan, acara yang disajikan, lokasi, penyelenggara, serta keterlibatan stakeholder dan masyarakat,” ujar Citra, Minggu (30/8).
Menurut akademisi Fakultas Teknik Unila tersebut, Festival Krakatau memiliki modal branding yang sangat kuat karena nama Krakatau sudah dikenal luas. Namun, kekuatan tersebut harus diterjemahkan ke dalam konsep acara yang benar-benar menghadirkan pengalaman wisatawan terhadap Gunung Anak Krakatau (GAK).
“Acara-acara dalam Festival Krakatau hendaknya terhubung langsung dengan Gunung Anak Krakatau sehingga wisatawan merasakan sensasi Krakatau yang fenomenal itu,” katanya.
Citra mencontohkan kegiatan dapat dikembangkan di wilayah yang memungkinkan wisatawan melihat GAK, seperti Rajabasa, Pulau Sebesi dan Kalianda. Bentuknya bisa berupa Krakatau Run, Krakatau 10K, Krakatau Cycling hingga pertunjukan seni budaya bertema Krakatau.
Menurutnya, waktu dan lokasi sangat menentukan keberhasilan sebuah event wisata.
Citra juga menyoroti pentingnya peran event organizer (EO). Reputasi penyelenggara, kata dia, akan menjadi salah satu pertimbangan wisatawan sebelum memutuskan datang.
“Penyelenggara atau EO mempunyai peran sangat strategis. Wisatawan akan mencari tahu reputasinya melalui media sosial. Kalau EO tidak dikenal atau tidak berpengalaman menyelenggarakan event seperti Festival Krakatau, tentu bisa menjadi kendala dalam menarik wisatawan,” ujarnya.
Ia juga mendorong keterlibatan pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, komunitas dan masyarakat sejak tahap perencanaan, bukan ketika acara sudah mendekati pelaksanaan.
Keterlibatan tersebut penting agar agenda Festival Krakatau dapat masuk Calendar of Event Pariwisata Nasional dan memiliki daya tarik yang lebih kuat.
Citra mengingatkan bahwa pada awalnya Festival Krakatau merupakan core event, sementara kegiatan di kabupaten/kota menjadi supporting event.
Konsep tersebut dapat dikembangkan kembali. Dengan 15 kabupaten/kota, Lampung berpeluang memiliki agenda pariwisata sepanjang tahun.
“Kalau setiap bulan satu kabupaten atau kota menyelenggarakan event, maka satu tahun Lampung punya event yang ditawarkan setiap bulannya. Misalnya Festival Teluk Lampung, Festival Teluk Semaka, Festival Stabas, Festival Pahawang hingga Festival Selat Sunda. Luar biasa bukan?” katanya.
Menurutnya, pola tersebut akan membuat promosi pariwisata Lampung tidak bergantung pada satu festival saja.
Citra menegaskan Gunung Anak Krakatau merupakan aset pariwisata yang memiliki branding kuat dan harus dijual sesuai positioning-nya.
Wisatawan saat ini, kata dia, tidak hanya mencari tontonan, tetapi pengalaman, kesehatan atau wellness, serta pengetahuan.
“Wisatawan sekarang makin cerdas. Mereka membutuhkan experience, wellness dan knowledge. Karena itu potensi Krakatau harus digali melalui wisata sejarah, seni budaya, bahari, sport tourism hingga MICE,” jelasnya.
Untuk memperkuat aspek edukasi dan pengetahuan, ia mengusulkan Seminar Internasional Krakatau yang melibatkan perguruan tinggi seperti Universitas Lampung dan Institut Teknologi Sumatera.
Citra menilai orientasi Festival Krakatau ke depan harus jelas: mendatangkan wisatawan, memperpanjang lama tinggal, meningkatkan belanja wisatawan dan akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Krakatau sudah punya branding besar. Tugas kita adalah menjualnya dengan konsep yang tepat. Jangan sampai festival hanya ramai di panggung, tetapi wisatawan tidak mendapatkan pengalaman Krakatau dan masyarakat tidak memperoleh manfaat ekonomi yang maksimal,” tegasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka Festival Krakatau XXXV. Gubernur menegaskan keberhasilan pariwisata bukan hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi dari seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Keberhasilan pariwisata bukan hanya diukur dari berapa banyak orang yang datang, tapi juga berapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.”
Festival Krakatau XXXV berlangsung 25–30 Agustus 2026 dengan sejumlah agenda, mulai kompetisi seni, festival kopi dan kuliner, Seruit Battle, Mengan Balak, Krakatau Run, opening ceremony hingga Lampung Tapis Karnaval dan malam penutupan.
Namun, bagi Citra, rangkaian acara tersebut harus menjadi pijakan untuk membangun konsep FK yang lebih matang pada tahun-tahun mendatang.
Festival Krakatau bukan sekadar pesta tahunan. Krakatau harus menjadi magnet wisata, dan festival harus menjadi pintu masuk agar uang wisatawan benar-benar berputar di Lampung. (cah).






