Ketua DPD ASTINDO Lampung Adi Susanto: Jangan Berhenti pada Seremoni, Wisatawan Harus Tinggal Lebih Lama dan Belanja di Lampung
BANDAR LAMPUNG — Festival Krakatau harus ditata ulang agar tidak sekadar menjadi agenda tahunan yang meriah, tetapi mampu menjadi mesin penggerak pariwisata dan ekonomi masyarakat Lampung.
Ketua DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASTINDO) Lampung, Adi Susanto, menilai Festival Krakatau memiliki potensi besar untuk menjadi magnet wisatawan nusantara maupun mancanegara. Namun, konsep penyelenggaraannya ke depan perlu diarahkan pada dampak ekonomi yang lebih nyata dan berkelanjutan.
Menurut Adi, Festival Krakatau tahun depan harus keluar dari pola seremoni dan hiburan semata. Festival harus menjadi ruang pertemuan antara wisatawan, pelaku UMKM, masyarakat lokal, komunitas pariwisata, seniman, pelaku ekonomi kreatif hingga industri perjalanan wisata.
“Kita ingin Festival Krakatau menjadi lebih besar, lebih menarik dan lebih bermanfaat. Jangan hanya ramai pada saat acara berlangsung, tetapi harus meninggalkan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat Lampung,” ujar Adi Susanto, Senin (31/8/2026).
Ia mengusulkan konsep festival dikembangkan dengan paket wisata yang terintegrasi, festival kuliner khas Lampung, pameran UMKM, pertunjukan seni dan budaya, promosi produk lokal, kegiatan bahari serta pelibatan desa-desa wisata.
Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk menyaksikan rangkaian acara, tetapi terdorong tinggal lebih lama dan mengeluarkan belanja di berbagai destinasi serta usaha masyarakat.
“Wisatawan yang datang jangan hanya menjadi penonton. Mereka harus kita arahkan untuk menjelajah destinasi, menikmati kuliner, membeli produk UMKM dan menggunakan jasa pelaku usaha lokal. Di situlah dampak ekonominya terasa,” tegasnya.
KRAKATAU JADI IKON, DESTINASI LAMPUNG TERANGKAT
Adi juga menekankan pentingnya menjadikan Gunung Krakatau sebagai ikon utama yang terhubung dengan destinasi wisata lainnya di Provinsi Lampung.
Festival Krakatau, kata dia, harus mampu menjadi pintu masuk untuk mempromosikan destinasi di kabupaten dan kota lainnya. Dengan demikian, manfaat festival tidak terkonsentrasi di satu lokasi, melainkan menyebar ke berbagai daerah.
“Krakatau harus menjadi pintu masuk untuk menjual seluruh potensi pariwisata Lampung. Festivalnya di Bandar Lampung, tetapi wisatawannya harus bergerak ke destinasi-destinasi lain, menginap di hotel, makan di restoran, membeli oleh-oleh dan menggunakan jasa travel lokal,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat juga harus menjadi fondasi utama. Masyarakat tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi harus menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat kegiatan pariwisata.
Karena itu, evaluasi keberhasilan Festival Krakatau juga perlu menggunakan indikator yang lebih terukur. Bukan hanya berdasarkan jumlah tamu undangan dan kemeriahan acara, tetapi juga jumlah wisatawan, lama tinggal, transaksi UMKM, jumlah pelaku usaha lokal yang terlibat hingga kontribusinya terhadap perekonomian daerah.
SEJALAN DENGAN PESAN GUBERNUR
Gagasan tersebut sejalan dengan pesan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menutup Festival Krakatau XXXV Tahun 2026 di Lapangan Saburai, Minggu malam (30/8/2026).
Gubernur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bergotong royong menyukseskan Festival Krakatau yang berlangsung 25–30 Agustus 2026.
“Mari kita berdoa semoga tahun depan Allah masih beri kita kesempatan untuk menyelenggarakan Festival Krakatau yang jauh lebih baik, lebih besar, lebih mewah, dan lebih baik. Dan insya Allah, Festival Krakatau akan menjadi rangkaian tahunan yang akan menjadi magnet bagi seluruh pariwisata di Provinsi Lampung,” ujar Mirza.
Adi menilai harapan tersebut harus diterjemahkan ke dalam desain festival yang lebih strategis dan berorientasi pada hasil.
“Festival Krakatau harus menjadi festival yang hidup, inklusif, berdampak dan berkelanjutan. Saatnya Festival Krakatau bukan hanya menjadi acara tahunan, tetapi menjadi mesin penggerak pariwisata dan ekonomi masyarakat Lampung,” pungkas Adi. (Cah).






