Cegah Politisi Instan, PAN Lampung Pacu Kaderisasi

CAP 2026 Digelar, Target Empat Besar Pemilu 2029 — Kader Didorong Militan, Berintegritas dan Berbasis Data

BANDARLAMPUNG — Partai Amanat Nasional (PAN) Lampung mulai menyiapkan mesin politik menghadapi pertarungan Pemilu 2029. Salah satu strategi yang ditempuh adalah mempercepat dan memperkuat kaderisasi guna memastikan partai tidak bergantung pada figur maupun melahirkan politisi secara instan.

Langkah tersebut diwujudkan melalui Cadre Acceleration Program (CAP) 2026 bertajuk Pembelajaran Ideologi & Doktrin Kepartaian yang digelar di Hotel Soeltan Luxury, Sukabumi, Bandarlampung, Sabtu (12/9/2026).

Ratusan kader dari 15 kabupaten/kota di Lampung mengikuti program pendidikan politik tersebut. Peserta berasal dari unsur pengurus DPW PAN Lampung, pengurus harian DPD PAN se-Lampung, perwakilan PUAN, BM PAN, Majelis Taklim Al-Amanah hingga DPC PAN.

Ketua DPW PAN Lampung M. Hazizi menegaskan, CAP menjadi bagian dari strategi pemadatan sekaligus percepatan organisasi dalam menyiapkan kader-kader potensial untuk mengisi posisi kepemimpinan strategis.

Menurut Hazizi, kader tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknokratis. Mereka harus dibekali pemahaman ideologi, loyalitas dan etika publik sehingga memiliki keseimbangan antara kapasitas kepemimpinan dan nilai-nilai kepartaian.

“Pelaksanaan kaderisasi ini bertujuan untuk memperdalam ideologi kepartaian dan peningkatan kualitas kader partai,” tegas Hazizi.

Ia menilai proses kaderisasi yang kuat menjadi salah satu kunci membangun partai yang memiliki sumber daya manusia berkualitas. Kader diharapkan tidak hanya memahami teori politik, tetapi mampu menjalankan nilai-nilai partai dalam kerja nyata di tengah masyarakat.

Wakil Ketua Umum DPP PAN Bidang POK yang juga Wakil Menteri Transmigrasi RI, Viva Yoga Mauladi, menjadi salah satu narasumber utama dalam kegiatan tersebut.

Membawakan materi Ideologi dan Eksistensi Partai Amanat Nasional, Viva Yoga menekankan pentingnya ideologi dan kaderisasi sebagai fondasi partai politik modern.

Ia menyebut kaderisasi yang kuat merupakan salah satu syarat bagi PAN untuk mengejar target menjadi partai empat besar pada Pemilu 2029.

“Partai politik modern harus didirikan oleh ideologi politik yang jelas dan menjalankan program kaderisasi untuk melahirkan kader yang militan-ideologis,” papar Viva Yoga.

Para kader juga diminta memahami karakteristik pemilih di lapangan. Viva Yoga memetakan sedikitnya tiga tipe perilaku pemilih yang perlu dibaca kader, yakni pemilih ideologis atau loyal, pemilih rasional, dan pemilih transaksional.

Pemahaman tersebut dinilai penting agar kader mampu menyusun strategi politik yang sesuai dengan karakteristik masyarakat di masing-masing daerah pemilihan.

Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Lampung Achmad Saefulloh, S.H., M.H., memberikan perspektif mengenai ideologi negara dan pembentukan karakter politisi.

Menurutnya, politisi tidak boleh hanya mengejar kepentingan elektoral. Seorang politisi harus mampu menjadi kekuatan intelektual sekaligus agent of change bagi kemajuan masyarakat.

“Politisi harus berperan sebagai moral force yang berani menyuarakan kebenaran. Karakter politisi yang berintegritas dan jujur adalah menolak kebohongan serta kecurangan, yang merupakan perwujudan langsung dari Sila ke-1 dan ke-2 Pancasila,” urai Achmad.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam kaderisasi PAN Lampung. Politik tidak hanya dipandang sebagai perebutan kekuasaan, tetapi juga sebagai ruang pengabdian dan perjuangan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari sisi strategi dan eksekusi politik, akademisi FISIP Universitas Lampung Dr. Darmawan Purba membekali peserta dengan materi Manajemen Politik.

Darmawan menekankan pentingnya kerja politik berbasis data. Kader tidak boleh mengambil keputusan hanya berdasarkan asumsi, melainkan harus memahami karakteristik wilayah, pemilih dan persoalan masyarakat secara terukur.

“Kader partai harus mampu memetakan aktor prioritas, serta mengubah aspirasi atau masalah prioritas di masyarakat menjadi solusi dan aksi nyata,” jelas Darmawan.

Menurutnya, setelah memahami persoalan dan bergerak di lapangan, kader harus mampu mengemas aksi nyata tersebut menjadi pesan politik yang mudah dipahami, dipercaya dan diikuti konstituen.

CAP 2026 tidak berhenti pada pembekalan materi. DPW PAN Lampung menargetkan setiap peserta mampu menyusun rencana aksi atau Action Plan yang sistematis dan terukur untuk diterapkan ketika kembali ke daerah pemilihannya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan jangka panjang PAN Lampung menuju Pemilu 2029.

Dengan kaderisasi yang intensif, PAN Lampung berupaya membangun kader yang memiliki ideologi kuat, integritas, kemampuan membaca peta politik dan keberanian bekerja nyata di tengah masyarakat.

Target empat besar Pemilu 2029 pun mulai diletakkan di atas fondasi tersebut: bukan dengan politisi instan, tetapi melalui kader yang disiapkan, diuji dan ditempa sejak dini. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *