Proyek Laboratorium Terintegrasi IAIN Metro Nilai Fantastis Abaikan Penggunaan K3

Metro – Pekerjaan proyek Pembangunan Gedung Laboratorium Terintegrasi Institut Agama Islam Negeri Metro (IAIN Metro) yang bersumber dari dana Kementerian Agama, dengan Nilai Komtrak sebesar Rp. 63.053.069.000,- (Enam Puluh Tiga Milyar Lima Puluh Tiga Juta Enam Puluh Sembilan Ribu Rupiah) yang dimenangkan dan dikerjakan oleh PT. LINCE ROMAULI RAYA dengan alamat Jallan Gunung Sahari Ancol Ampera V, No 41. Pademangan Barat Jakarta Utara, DKI Jakarta Tahun Anggaran 2025 menjadi sorotan tajam.
‎
‎Pasalnya, berdasarkan pantauan dilapangan, sejumlah pekerja terlihat bekerja di ketinggian tanpa mengenakan Alat Pelindung Diri (APD), pada Kamis, (29/01/2026).
‎
‎Pemandangan berbahaya itu seolah mengabaikan norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagimana diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1970.
‎
‎Proyek bernilai miliaran rupiah yang dikerjakan tersebut dengan dibiayai oleh Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan tanggal kontrak 25 Juli 2025 dan masa pelaksanaan selama 160 hari kalender.
‎
‎Selain itu, kualitas material pasir yang dipergunakan untuk pembangunan laboratorium tersebut masih ditemukan pasir bercampur dengan lumpur.
‎
‎Menurut Supendi, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembagunan Gedung Laboratorium IAIN Metro pihaknya berdalih telah melakukan pengecekan dilapangan.
‎
‎Namun demikian, fakta yang ditemukan dilapangan masih terdapat material pasir yang tercampur dengan lumpur.
‎
‎“Baik terima kasih infonya, ini saya cek Lapangan apakah pasir tersebut untuk adukan atau yang lain. Kemarin saya minta pasir tersebut untuk urugan pekerjaan landscape,” ujar Supendi kepada media saat dihubungi.
‎
‎Lebih lanjut, Supendi memastikan pihaknya akan melakukan terjun ke lapangan guna mencari informasi.
‎
‎“Saya investigasi lagi apakah benar info ini dan siapa yang perintahkan ini. Apakah mandor atau oknum soalnya saya sudah larang dan akan saya bongkar kalau ada yg pakai pasir campur lumpur,” dalihnya.
‎
‎Supendi menambahkan, terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
‎para pekerja tidak menghiraukan keselamatan mereka.
‎
‎“Memang kadang pekerjanya bandel saya tau sendiri, Apalagi pekerja lokal,” ujar lagi.
‎
‎”Ya, target saya zero accident, Alhamdulillah, sampai hari ini aman, tapi tetap K3 adalah prioritas,”elaknya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *