MERBABU — Ada banyak cara memaknai mudik Lebaran. Bagi Pimpinan Umum Koran Editor, Hi. Suprapto, S.Psi., M.H, Idulfitri bukan hanya tentang pulang ke kampung halaman, tetapi juga perjalanan batin untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Pada Lebaran 1447 Hijriah/2026 Masehi, Suprapto bersama keluarga memilih mengisi momen suci dengan mendaki Gunung Merbabu. Di tengah hamparan savana, jalur terjal, dan udara pegunungan yang sejuk, mereka merasakan kebesaran ciptaan Allah yang begitu nyata.
“Alhamdulillah, mudik Lebaran tahun ini kami sekeluarga bisa menikmati betapa agung dan indahnya ciptaan Allah dengan muncak ke Gunung Merbabu. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” ujar Suprapto.
Kebersamaan keluarga menjadi inti perjalanan tersebut. Setiap langkah mendaki bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga tentang saling menguatkan, berbagi semangat, dan merajut kenangan yang tak terlupakan.
Tradisi Lebaran dengan nuansa alam sejatinya bukan hal baru bagi Suprapto. Pada Lebaran tahun sebelumnya, 1446 Hijriah/2025 Masehi, ia juga mengajak keluarga menikmati dinginnya dataran tinggi Dieng—sebuah kawasan yang dikenal dengan lanskap pegunungan dan budaya khasnya.
“Setiap perjalanan selalu memberi pelajaran. Tahun lalu di Dieng kami belajar tentang kesederhanaan, tahun ini di Merbabu kami belajar tentang keteguhan dan rasa syukur,” tambahnya.
Pendakian Gunung Merbabu yang dikenal ramah bagi pendaki keluarga tetap menyimpan tantangan tersendiri. Namun justru di situlah makna perjalanan terasa semakin dalam. Alam mengajarkan kesabaran, ketekunan, serta keikhlasan dalam menjalani proses.
Lebaran di alam terbuka, jauh dari hiruk pikuk kota, menghadirkan suasana yang lebih hening dan reflektif. Di puncak ketinggian, manusia diingatkan akan keterbatasannya sekaligus diajak untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan.
“Di atas gunung, kita tidak hanya melihat keindahan, tapi juga menemukan kedamaian. Ini adalah cara kami memaknai mudik—kembali, bukan hanya ke tempat asal, tetapi juga kembali kepada diri sendiri dan kepada Allah,” tutup Suprapto.
Perjalanan dari Dieng ke Merbabu menjadi simbol bahwa makna Lebaran bisa dirayakan dengan cara sederhana, namun penuh kedalaman: kebersamaan, keheningan, dan rasa syukur yang tak terhingga. (*)






