Bandarlampung — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pasar modal Indonesia tetap menunjukkan ketahanan kuat di tengah dinamika ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga gejolak perdagangan internasional yang memengaruhi pergerakan pasar dunia.
Hal itu disampaikan Kepala Direktorat Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Bayu Samodro, dalam Media Gathering OJK bersama media Lampung di Grand Mercure Hotel Bandar Lampung, Selasa (19/5/2026).
Menurut Bayu, gejolak pasar modal yang terjadi saat ini bersifat sementara dan lebih dipengaruhi sentimen eksternal, sementara fundamental ekonomi nasional masih tetap solid.
“Gejolak di pasar modal bersifat temporal dan dipengaruhi sentimen eksternal. Namun indikator riil pertumbuhan ekonomi menunjukkan Indonesia memiliki basis fundamental yang kuat untuk tetap tumbuh positif,” ujar Bayu Samodro.
Data OJK mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren penguatan dalam beberapa tahun terakhir. Setelah berada di level 5.979,07 pada akhir 2020, IHSG melonjak hingga mencapai 8.646,94 pada akhir 2025. Bahkan pada Januari 2026, IHSG sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 9.134,70 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp16.640 triliun.
Bayu menjelaskan, sejumlah indikator pasar modal juga tetap tumbuh positif di tengah dinamika global. Penghimpunan dana korporasi di pasar modal sepanjang 2025 tercatat melampaui target hingga mencapai Rp274,87 triliun dan ditargetkan meningkat menjadi Rp250 triliun pada 2026.
Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di pasar saham meningkat signifikan menjadi Rp18,06 triliun pada 2025 dan kembali naik menjadi Rp24,66 triliun hingga Mei 2026.
“Tren ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia masih sangat baik,” katanya.
OJK juga mencatat pertumbuhan signifikan jumlah investor pasar modal, terutama dari kalangan investor ritel domestik usia muda. Hingga 13 Mei 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 27,07 juta investor atau tumbuh sekitar 32,95 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas investor domestik berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun dengan komposisi mencapai 54,71 persen dari total investor ritel.
“Basis investor domestik kita terus menguat dan menjadi fondasi penting ketahanan pasar modal nasional,” ujar Bayu.
Dalam kesempatan itu, OJK turut memaparkan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia yang meliputi penguatan penegakan hukum, peningkatan transparansi, kebijakan free float emiten, penguatan tata kelola perusahaan, hingga pendalaman pasar secara terintegrasi.
Bayu menegaskan OJK akan terus memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran pasar modal, termasuk manipulasi transaksi saham dan penyebaran informasi menyesatkan.
“Kami ingin membangun pasar modal Indonesia yang semakin transparan, kredibel, dan memiliki daya saing global,” tegasnya.
Menurut Bayu, penguatan pasar modal menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks. (*).






