Heni Susilo: Generasi Muda Lampung Jangan Hanya Jadi Investor, Tapi Investor Cerdas dan Kebal Investasi Bodong

Bandarlampung – Meningkatnya jumlah investor muda di Provinsi Lampung mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi III DPRD Lampung, Heni Susilo. Politisi Fraksi PKS itu menilai tren tersebut merupakan sinyal positif bahwa bonus demografi Lampung mulai bergerak menjadi kekuatan ekonomi produktif. Namun, ia mengingatkan agar pertumbuhan investor tidak hanya berorientasi pada kuantitas, melainkan juga kualitas literasi keuangan masyarakat.

Menurut Heni, dominasi generasi muda dalam aktivitas investasi pasar modal menjadi peluang besar bagi pembangunan ekonomi daerah menuju Generasi Emas Lampung 2045. Berdasarkan data hingga April 2026, nilai transaksi pasar modal di Lampung mencapai Rp25,03 triliun dengan investor usia 18–25 tahun mendominasi sebesar 38,4 persen dari total investor yang terdaftar.

“Ini merupakan kabar baik bagi masa depan ekonomi Lampung. Bonus demografi mulai menunjukkan arah yang produktif. Namun menjadi investor tidak cukup hanya memiliki keberanian menempatkan dana. Generasi muda harus dibekali pemahaman yang kuat, kemampuan analisis yang baik, serta sikap kritis terhadap berbagai tawaran investasi,” tegas Heni, dalam siaran persnya, Selasa (9/6).

Ia mengingatkan bahwa tingginya antusiasme masyarakat terhadap investasi juga membuka peluang munculnya berbagai modus investasi ilegal yang menawarkan keuntungan tidak masuk akal.

“Jangan sampai antusiasme generasi muda dimanfaatkan oleh oknum yang menawarkan keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa dasar yang jelas. Investasi yang sehat harus didasarkan pada legalitas, pemahaman risiko, serta tujuan keuangan yang terukur,” ujarnya.

Heni menilai kemudahan akses investasi melalui platform digital, aplikasi keuangan, hingga pembukaan rekening efek secara daring harus dibarengi kemampuan masyarakat dalam memahami risiko dan perlindungan konsumen. Menurutnya, literasi keuangan harus berjalan seiring dengan meningkatnya inklusi keuangan.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Pada kelompok usia 18–25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat 73,22 persen dan inklusi keuangan mencapai 89,96 persen.

“Literasi harus berjalan beriringan dengan inklusi. Kita tidak boleh hanya bangga karena jumlah investor meningkat. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memahami risiko, mengenali legalitas produk keuangan, dan menyadari bahwa investasi bukan jalan pintas untuk menjadi kaya secara instan,” katanya.

Empat Langkah Strategis

Aleg PKS dari Daerah Pemilihan Tanggamus, Lampung Barat, dan Pesisir Barat itu mendorong sejumlah langkah konkret untuk memperkuat literasi investasi masyarakat. Di antaranya memperluas edukasi pasar modal di sekolah, pesantren, perguruan tinggi dan komunitas pemuda, memperkuat kampanye anti-investasi bodong, anti-pinjol ilegal dan anti-judi online, menyediakan layanan konsultasi keuangan yang mudah diakses, serta mengoptimalkan fungsi galeri investasi sebagai pusat edukasi dan pendampingan investasi yang legal.

Menurut Heni, Lampung memiliki modal besar untuk mencetak generasi investor yang sehat dan produktif. Dengan jumlah penduduk sekitar 9,53 juta jiwa dan rasio ketergantungan 46,79 berdasarkan data SUPAS 2025, bonus demografi harus dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing ekonomi daerah.

“Generasi muda Lampung harus menjadi investor yang bijak, bukan sekadar mengikuti tren. Dengan literasi yang kuat, mereka dapat memanfaatkan peluang investasi secara produktif, terhindar dari berbagai bentuk penipuan keuangan, dan menjadi bagian penting dari terwujudnya Generasi Emas Lampung 2045,” pungkasnya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *