Kondisi tubuh yang tidak prima, suara yang mulai hilang, hingga batuk dan pilek yang tak kunjung reda tak mampu menghentikan langkah Jesica Florensia meraih prestasi di tingkat nasional. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung itu sukses menyabet Juara I Lomba Menyanyi Bahasa Prancis Kategori Mahasiswa pada ajang La Semaine de la Mode 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Prancis Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.
Prestasi tersebut terasa istimewa karena diraih di tengah kondisi kesehatan yang menurun. Menjelang batas pengumpulan video lomba, Jesica harus membagi waktu antara mendampingi kegiatan pemilihan Duta Bahasa, pelayanan gereja, dan persiapan kompetisi.
Di saat bersamaan, tubuhnya mulai menunjukkan gejala sakit. Batuk, pilek, bersin-bersin, hingga suara bindeng membuat proses latihan dan perekaman video menjadi tidak mudah. Bahkan saat pengambilan video dilakukan, kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih.
“Sudah beberapa kali mengulang tetap tidak sampai pas bagian reff,” ungkap Jesica saat menceritakan perjuangannya.
Nada-nada tinggi yang menjadi bagian penting lagu sulit dicapai. Suaranya beberapa kali terdengar fals sehingga membuat dirinya sempat diliputi keraguan. Namun di tengah keterbatasan itu, ia memilih tetap melanjutkan perjuangan dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Setelah berulang kali melakukan pengambilan video, satu rekaman terbaik akhirnya berhasil didapat dan dikirimkan sebagai karya lomba.
Lagu Dernière Danse dipilih karena sudah sangat dikuasainya. Sebelumnya, lagu tersebut pernah dibawakannya dalam ajang La Semaine Française 2026 sehingga penghayatan dan pelafalan liriknya telah dipersiapkan dengan baik.
“Karena masih hafal dan aku kuasai, jadi aku memilih lagu itu. Sebenarnya ada lagu lain, namun aku belum terlalu hafal,” katanya.
Untuk menjaga kondisi vokal selama sakit, Jesica melakukan berbagai cara sederhana, mulai dari memperbanyak istirahat, mengonsumsi obat, minum air putih, hingga memanfaatkan ramuan jeruk nipis dan kecap guna meredakan gangguan pada tenggorokan.
Kerja keras itu akhirnya terbayar saat pengumuman pemenang diumumkan. Nama Jesica keluar sebagai Juara I kategori mahasiswa, mengungguli peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“Sangat-sangat bersyukur. Aku yang awalnya ragu dan takut hasilnya tidak sesuai harapan, ternyata Tuhan mematahkan rasa ragu dan takut aku menjadi kabar sukacita,” ujarnya.
Menurut Jesica, keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga, dosen, pimpinan program studi, serta sahabat-sahabatnya yang terus memberikan semangat selama proses persiapan lomba.
Ia mengaku pesan sang ibu menjadi pegangan kuat sepanjang kompetisi.
“Kalau Tuhan mau kamu yang menang, pasti kamu yang menang siapa pun lawannya.”
Kemenangan ini pun dipersembahkan untuk keluarga, almamater Unila, Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis, serta seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan prestasinya.
Ke depan, Jesica bertekad terus meningkatkan kemampuan pelafalan bahasa Prancis dan memperbanyak pengalaman tampil di berbagai kompetisi nasional maupun internasional.
“Rasa takut bisa dikalahkan ketika kita berani mencoba. Keberanian sejati bukan tentang selalu berhasil, melainkan tentang tidak berhenti melangkah,” pungkasnya. (dbs).






