Konflik manusia dan satwa liar terjadi akibat adanya interaksi yang berdampak negatif, baik langsung maupun tidak langsung, antara manusia dan satwa liar. Pada kondisi tertentu konflik tersebut dapat merugikan semua pihak yang berkonflik.
Konflik yang terjadi cenderung menimbulkan sikap negatif manusia terhadap satwa liar, yaitu berkurangnya kepedulian manusia terhadap satwa liar serta mengakibatkan efek-efek detrimental terhadap upaya konservasi.
Kerugian yang umum terjadi akibat konflik antara lain rusaknya tanaman pertanian atau perkebunan, pemukiman, serta pemangsaan ternak oleh satwa liar, bahkan kadang menimbulkan korban jiwa manusia, dan tidak jarang satwa liar yang berkonflik tersebut mengalami kematian.
Pencegahan konflik manusia dan satwa liar merupakan upaya untuk mengatasi, atau mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar dengan mengedepankan kepentingan dan keselamatan manusia, tanpa mengorbankan kepentingan dan keselamatan satwa liar.
“Konflik yang terjadi seharusnya dapat mendorong pemerintah dan para pihak terkait untuk lebih bijaksana dalam memahami kehidupan dan kebutuhan hidup satwa liar, sehingga tindakan penanggulangan dan pencegahan konflik dapat lebih optimal”,
Yang seharusnya dilakukan :
Program dan sosialisasi tentang penyadartahuan yang dilaksanakan kepada masyarakat sekitar hutan, didesa desa penyangga juga tak kalah penting, agar lebih peduli terhadap pentingnya konservasi terhadap satwa liar.
Program pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya pencegahan konflik, serta diperlukan kerjasama para pihak pada skala bentang alam. dengan Tujuan “ setiap interaksi dengan satwa harus bernilai positif, agar terjadi ko-eksistensi, seperti yang terjadi di negara-negara lain”
*Apriyan Sucipto, SH, MH*
BKSDA Bengkulu
SKW III Lampung.






