Oleh
Mella Risdiyanti
Mahasiswa UIN RIL
Covid-19 merupakan singkatan dari Corona Virus Disease 2019. Penyebaran awalnya diduga berasal dari hewan (kelelawar, trenggiling, ) yang dikonsumsi disekitar pasar wuhan, Cina. Wabah ini telah menyebar ke 199 negara dan wilayah di seluruh dunia. Pada 11 maret 2020 WHO telah menetapkan status covid-19 sebagai pendemi, pandemi adalah sebuah epedemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, dan umumnya menjangkiti banyakorang. Istilah Pandemi menunjukan tingkat keparahan saatu penyakit. Adanya kebijakan dari pemerintah dengan pembatasan aktivitas dikehidupan sosial, dimana beberapa kegiatan yang mengharuskan bertemu dengan kerumunan manusia diberhentikan. Dan diganti dengan bekerja, belajar dan beribadah di rumah. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari bertambahnya korban dari covid-19 dan memutus rantai persebaran virus tersebut. Pandemi covid-19 tidak hanya berdampak dalam bidang kesehatan, pandemi ini juga akan berdampak pada krisis yang lebih luas dan berdampak pada seluruh aspek kehidupan, dampak Covid-19 ini juga mengganggu perekonomian Indonesia dan beberapa negara lain yang terdampak, salah satunya adalah melemahanya kurs Rupiah terhadap dolar.
Kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp16.608 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Jumat tanggal 20 Maret kemarin, yakni Rp16.273 per dolar AS. Sama seperti rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat won Korea melemah 1,70persen, ringgit Malaysia 1,13 persen, dan rupee India 1,04 persen. Selanjutnya, peso Filipina melemah 0,89 persen, baht Thailand 0,87 persen dan lira Turki 0,63 persen, diikuti dolar Singapura yang melemah 0,45 persen serta yuan China sebesar 0,26 persen.
Di sisi lain, penguatan hanya terjadi pada yen Jepang sebesar 0,69 persen serta dolar Hong Kong sebesar 0,04 persen terhadap dolar AS. Kemudian di negara maju, mayoritas nilaitukar bergerak melemah terhadap dolar AS. Dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing melemah sebesar 0,25 persen dan 0,49 persen, diikuti poundsterling Inggris yang juga melemah0,05 persen. Sementara, hanya euro yang menguat sebesar 0,06 persen terhadap dolar AS.
Depresiasi nilaii tukar yang sedang dialami indonesia saat ini juga dialami negara lain bahkan pasar global secara keseluruhan. Penyebabnya tak juah-jauh dari sentimen terhadap penyebaran virus Corona, investor global sedang mengalami ketidakpastian yang tinggi. Hal ini yang juga mempengaruhi rupiah. Selama pasar global mengalami kepanikan, maka nilai rupiah terhadap Dollar AS pun akan semaikin Rentan. Depresiasi rupiah akan berdampak pada pembayaran utang, baik utang pemerintah maupun utang swasta yang membengkak. Operasional pelaku usaha yang bergantung pada impor dan jasa luar negeri akan semakin meningkat. Penguatan Mata uang rupiah terhadap dolar As mungkin akan berlangsung bertahap karena pasar sepertinya masih kurang normal karena panik yang membayangi. Faktor fundamental akan lebih mempengaruhi pergerakan rupiah selama Pandemi Covid-19 belum bisa dihentikan. Melemahnya nilai rupiah ini dinilai akan terus berlanjut sampai wabah virus corona berakhir diIndonesia. (*)






