Pengamat: Jalannya Debat Kurang Menarik dan Biasa Saja

Bandarlampung – Sejumlah akademisi mengomenari jalannya debat perdana calon walikota Bandarlampung yang digelar KPU setempat di Hotel Sheraton, kemarin. Mereka menilai jalannya debat kurang menarik dan biasa saja.

Akademis Fisip Universitas Lampung Dedi Hermawan menyebutkan bahwa debat kandidat pertama yang dilaksanakan oleh KPU untuk Calon Wali Kota Bandarlampung secara umum kurang menarik.
“Tingkat performence calon masih rendah, mereka juga belum menguasai data, analisis, dan solusi strategis untuk kesejahteraan warganya,” kata pengamat politik Unila tersebut.

Menurutnya juga derajat debat masih belum maksimal sebab formatnya justru menghalangi terjadinya perdebatan antara calon wali kota sehingga yang tampil hanya lebih kepada tanya jawab.

“Acara tadi bukan debat, tapi tanya jawab. Mungkin ini disebabkan baru debat fase, baik KPU dan kandidat, masih pemanasan,” ujarnya.

Dia pun berharap debat kandidat pertama ini dapat dijadikan pengalaman dan evaluasi bagi KPU untuk merancang forum yang lebih menarik ataupun sesungguhnya pada debat berikutnya.

Kemudian, kata dia, tahapan debat berikutnya para calon wali kota dan wakil wali kota harus lebih atraktif dan kaya adu argumentasi, adu data, gagasan, paradigma, agenda dan aksi.

“Jadi para kandidat juga harus lebih meningkatkan penampilannya di debat-debat selanjutnya sehingga lebih menarik,” katanya.

Senada disampaikan, Akademisi FSIP Unila Dr. Roby Cahyadi, mengamati jalannya debat. Menurut Roby, debat berjalan biasa saja saat pertanyaan dari amplop dan dari video. Sehingga masih belum menyentuh.

Tapi kata Roby, debat mulai hangat saat saling bertanya antar kandidat. “Debat mulai menghangat saat calon saling bertanya. Khususnya antara Bu Eva dan Yusuf Kohar,” kata Dosen Unila ini.

Dalam debat ini kata Roby, ada satu kandidat yang paling baik dalam debat kandidat malam ini. Secara logika pertanyaan dan lugas jawaban, dan ada satu kandidat yang emosional dalam bertanya dan menjawab. Tapi, Roby tidak menyebutkan siapa kandidat yang paling baik dan emosional. “Yang pasti debat ini paling baik dalam sesi saling bertanya,” ujar Roby.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandarlampung menggelar debat kandidat calon wali kota di Ball Room Sheraton Hotel, Bandarlampung, Rabu  malam dengan tema “Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Memajukan Daerah”.

Tiga calon walikota yang ikut dalam debat perdana tersebut: nomor urut 01 Rycko Menoza, nomor urut 02 M Yusuf Kohar, dan nomor urut 03 Eva Dwiana.

Pada Pilkada 9 Desember 2020 di Kota Bandarlampung akan diikuti oleh tiga pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yakni nomor urut 01 Rycko Menoza-Johan Sulaiman (Rycko-Jos) diusung Partai PKS dan Golkar.

Kemudian pasangan calon wali kota dan wakil wali kota nomor urut 02 Yusuf Kohar-Tulus Purnomo (Yutuber) diusung Partai Demokrat, PAN, PKB, Perindo dan PPP.

Terakhir pasangan calon wali kota dan wakil wali kota nomor urut 03 Eva Dwiana-Dedi Amrullah diusung PDIP, Gerindra, dan NasDem.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandarlampung menggelar debat kandidat calon walikota di ball room Sheraton Hotel, Bandarlampung, Rabu (14/10/2020) malam.

Tiga calon walikota yang ikut dalam debat perdana tersebut: nomor urut 01 Rycko Menoza, nomor urut 02 M Yusuf Kohar, dan nomor urut 03 Eva Dwiana.

Debat kandidat yang dimulai pukul 19.30 hingga 21.30 WIB itu dipandu dua moderator berlatar belakang jurnalis: Juwendra Asdiansyah dan Regina Valeria Putri (penyiar TVRI Jakarta).

Debat kali ini mengambil tema “Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Memajukan Daerah’. Debat dibuka oleh Ketua KPU Kota Bandarlampung Dedy Triady. (dbs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *