Nuzulul Quran, Manifesto Kemanusiaan di Tengah Krisis Global

Oleh: Hasbullah
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Peringatan Nuzulul Quran setiap bulan Ramadan sering kali terjebak dalam ruang retorika dan seremonial belaka. Padahal, peristiwa turunnya Al-Quran merupakan revolusi kesadaran yang seharusnya mampu mengguncang kemapanan ego manusia. Di tengah dunia yang terkoyak oleh peperangan—mulai dari krisis Timur Tengah hingga ketegangan global—Nuzulul Quran hadir sebagai pengingat bahwa “Iqra” (bacalah) bukan sekadar mengeja huruf, melainkan membaca realitas kemanusiaan yang sedang tergadai.

Sebagaimana ditegaskan oleh M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran, wahyu pertama tersebut menuntut manusia untuk membaca fenomena alam dan sosial guna menemukan kebenaran sejati. Dalam konteks ini, “membaca” berarti memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama yang diakibatkan oleh ambisi kekuasaan yang buta.

Al-Quran turun sebagai Hudan lin-Nas (petunjuk bagi seluruh manusia), bukan hanya bagi satu kelompok atau bangsa tertentu. Namun ironisnya, di wilayah tempat wahyu ini pertama kali turun, kita justru menyaksikan realitas yang bertolak belakang dengan nilai-nilai suci tersebut. Ketegangan yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah menunjukkan betapa petunjuk Tuhan sering kali diabaikan demi kepentingan geopolitik.

Menurut Muhammad Abduh, Al-Quran merupakan sumber kekuatan untuk melakukan reformasi sosial dan moral. Namun ketika kitab suci hanya dijadikan simbol tanpa implementasi nilai keadilan, kemanusiaan akan tetap menjadi korban. Nuzulul Quran seharusnya menjadi panggilan untuk kembali menjadikan wahyu sebagai pedoman moral dalam meredam konflik serta mengedepankan martabat manusia di atas peta kekuatan politik.

—

Melawan Jahiliyah Modern

Jika pada masa turunnya Al-Quran musuh utamanya adalah keangkuhan kaum Jahiliyah, maka hari ini manusia berhadapan dengan apa yang dapat disebut sebagai “Jahiliyah Modern”. Wujudnya adalah ego geopolitik yang secara sistematis menempatkan kekuasaan, senjata, dan dominasi di atas hak hidup manusia.

Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut Sayyid Qutb sebagai kondisi jahiliyyah kontemporer, yaitu ketika manusia berpaling dari kedaulatan Tuhan dan beralih menyembah kekuatan material. Dalam panggung konflik Timur Tengah, keangkuhan ini terlihat ketika kedaulatan negara dijadikan pembenaran untuk menghancurkan ruang hidup warga sipil, seolah-olah kekuatan militer adalah hukum tertinggi yang melampaui etika ketuhanan.

Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang benar sama dengan membunuh seluruh umat manusia (QS. Al-Ma’idah: 32). Pesan ini merupakan landasan etika perang (jus in bello) yang seharusnya menjadi cermin bagi para pemimpin dunia yang hari ini dengan bangga memamerkan kekuatan militernya di atas puing-puing rumah warga sipil.

Sebagaimana dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr, krisis dunia modern berakar pada hilangnya dimensi spiritual dalam memandang kehidupan. Karena itu, Nuzulul Quran seharusnya menjadi momentum “gencatan senjata” bagi ego manusia yang merasa diri sebagai tuhan-tuhan kecil di bumi. Peringatan ini adalah panggilan untuk meruntuhkan berhala kekuasaan dan mengembalikan orientasi kebijakan global pada upaya memuliakan ciptaan Tuhan, bukan memusnahkannya.

—

Al-Quran sebagai Pembebas

Salah satu misi utama turunnya Al-Quran adalah membebaskan manusia dari perbudakan oleh sesama manusia. Dalam konteks hari ini, bentuk perbudakan itu muncul dalam wajah baru: hegemoni ekonomi dan politik yang menindas.

Masyarakat sipil di wilayah konflik sering kali menjadi sandera kebijakan para pemimpin yang lebih mencintai peta kekuasaan daripada nyawa rakyatnya sendiri. Fenomena ini sejalan dengan kritik Asghar Ali Engineer (1991) dalam The Concept of State in Islam, yang menegaskan bahwa Islam hadir untuk meruntuhkan struktur kekuasaan yang eksploitatif. Al-Quran menuntut pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan agar martabat individu tidak lagi digadaikan demi kepentingan elite geopolitik.

Pesan Al-Quran tentang keadilan sosial (al-‘adalah) dan pembelaan terhadap kaum lemah (mustad’afin) menjadi kritik keras terhadap standar ganda moralitas global saat ini. Bagaimana mungkin kitab suci dibaca dengan fasih, tetapi mata kita tertutup terhadap blokade yang membuat anak-anak kelaparan di zona perang?

Hal ini merupakan bentuk pengabaian terhadap perintah Tuhan untuk menegakkan keadilan tanpa pandang bulu (QS. An-Nisa: 135). Senada dengan pemikiran Ali Shariati, Al-Quran bukan sekadar bacaan ritual, melainkan instrumen ideologis untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik.

Tanpa keberpihakan nyata pada kemanusiaan, kefasihan membaca wahyu hanya akan menjadi kesalehan individual yang kehilangan dimensi sosialnya di tengah tragedi kemanusiaan yang nyata.

—

Kembali ke Khittah Kemanusiaan

Nuzulul Quran sejatinya mengajak manusia kembali kepada khittah atau garis perjuangan kemanusiaan yang hakiki. Wahyu pertama yang berbunyi “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq” (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan) bukan sekadar perintah literasi, melainkan instruksi eksistensial agar manusia bertindak atas nama Tuhan Sang Pencipta—bukan atas nama ego, sentimen kesukuan, apalagi ambisi politik sesaat.

Dalam pandangan Fazlur Rahman (1980) dalam bukunya Major Themes of the Qur’an, Al-Quran diturunkan dengan tujuan utama membangun tatanan sosial yang adil dan etis. Oleh karena itu, segala bentuk kebijakan geopolitik yang menindas martabat manusia sejatinya telah keluar dari ruh wahyu yang menghendaki penghapusan kezaliman di muka bumi.

Jika Al-Quran dibaca dengan hati yang jernih, kita akan menemukan sebuah tesis besar bahwa masa depan peradaban tidak akan pernah kokoh jika dibangun di atas tumpukan selongsong peluru. Peradaban harus berpijak pada fondasi kasih sayang (rahmah) dan dialog.

Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anbiya ayat 107, risalah kenabian hadir sebagai Rahmatan lil-‘Alamin—rahmat bagi seluruh alam. Gagasan ini sejalan dengan argumen Hans Küng (1991) mengenai etika global: tidak akan ada perdamaian antarbangsa tanpa perdamaian antaragama, dan tidak akan ada perdamaian antaragama tanpa dialog antarperadaban.

Ketegangan di Timur Tengah saat ini menjadi bukti nyata kegagalan manusia dalam mengimplementasikan dialog sebagai instrumen penyelesaian konflik.

Karena itu, mengembalikan Al-Quran ke dalam ruang publik geopolitik berarti mengedepankan nilai-nilai universal kemanusiaan di atas kepentingan sektarian. Al-Quran secara tegas mengutuk segala bentuk kesombongan yang membawa kerusakan (fasad) di bumi.

Dalam perspektif pemikiran Moeslim Abdurrahman (2003) tentang Islam Transformatif, Nuzulul Quran harus dimaknai sebagai energi untuk membela kaum tertindas (mustad’afin) akibat ego para pemimpin dunia. Peradaban yang berkelanjutan hanya dapat tercapai jika para pengambil kebijakan mampu menundukkan ego kedaulatan mereka di bawah supremasi kemanusiaan, menjadikan wahyu sebagai kompas moral untuk menghentikan pertumpahan darah yang sia-sia.

Maka, memperingati Nuzulul Quran di tengah situasi dunia yang memanas seperti saat ini merupakan tantangan moral. Al-Quran tidak diturunkan untuk menjadi hiasan di rak buku, melainkan sebagai pedoman untuk memanusiakan manusia.

Perang dan kehancuran bukanlah keniscayaan yang digariskan Tuhan, melainkan pilihan sadar manusia yang dikuasai kesombongan. Nuzulul Quran adalah momen untuk berhenti menjadi penonton teater kehancuran dan mulai menjadi penyambung lidah bagi nilai-nilai perdamaian yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Karena sesungguhnya, kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil menghancurkan lawan, melainkan ketika kita mampu memadamkan api ego di dalam diri kita sendiri..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *