Oleh: Prof. Dr. Nairobi
Guru besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan FEB Unila
Harga emas global saat ini berada pada kisaran yang sangat tinggi secara historis. Pada awal Maret 2026, harga emas sempat menyentuh level sekitar 5.300–5.400 dolar AS per troy ounce, seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang memicu lonjakan permintaan aset lindung nilai (safe haven).
Meski dalam beberapa pekan terakhir terjadi koreksi tajam, level harga emas masih jauh di atas rata-rata beberapa tahun sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan akumulasi premi risiko geopolitik, kekhawatiran terhadap inflasi energi, serta ketidakpastian terkait keberlanjutan fiskal di sejumlah negara maju maupun berkembang.
Secara struktural, kenaikan harga emas sejak 2025 ditopang oleh kombinasi beberapa faktor utama: defisit fiskal AS yang terus melebar, pembelian emas secara agresif oleh bank sentral negara berkembang, serta peran emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio ketika korelasi antar kelas aset meningkat.
Sejumlah lembaga keuangan global, seperti HSBC dan J.P. Morgan, bahkan telah berulang kali menaikkan proyeksi harga emas untuk periode 2025–2026. Dalam beberapa skenario, harga emas diperkirakan dapat bergerak menuju kisaran 5.000–6.000 dolar AS per ons dalam beberapa tahun ke depan, bahkan sebelum memperhitungkan eskalasi terbaru di kawasan Timur Tengah.
—
Emas sebagai Aset Lindung Nilai di Tengah Konflik
Dari perspektif ekonomi keuangan, respons harga emas terhadap konflik besar dapat dijelaskan melalui beberapa jalur utama.
Pertama, emas berfungsi sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang cenderung menguat saat ketidakpastian geopolitik meningkat dan risiko kejadian ekstrem (tail risk) membesar. Dalam konteks konflik AS–Israel vs Iran, posisi strategis Iran terhadap akses Selat Hormuz menjadikan setiap ancaman gangguan jalur pelayaran sebagai pemicu lonjakan ekspektasi harga minyak dan inflasi global.
Kedua, jalur inflasi dan suku bunga riil menjadi faktor kunci. Kenaikan harga energi mendorong ekspektasi inflasi, sementara bank sentral menghadapi dilema antara menahan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi suku bunga riil menurun atau diperkirakan turun, emas menjadi semakin menarik sebagai instrumen investasi.
Ketiga, emas bersaing dengan dolar AS sebagai aset lindung nilai. Dalam banyak krisis, dolar AS dan obligasi pemerintah AS justru menguat. Namun, dalam konflik yang melibatkan AS secara langsung, dinamika ini menjadi lebih kompleks. Di satu sisi, dolar tetap kuat sebagai mata uang cadangan dunia, tetapi di sisi lain, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS mendorong diversifikasi ke emas dan aset riil lainnya.
—
Melihat ke Depan: Pendekatan Berbasis Skenario
Dalam situasi ketidakpastian tinggi, pendekatan berbasis skenario (forward-looking) menjadi lebih relevan dibandingkan sekadar proyeksi tunggal.
Pertama, perang berlarut namun terkendali.
Dalam skenario ini, konflik berlangsung dengan intensitas sedang hingga tinggi tanpa eskalasi ekstrem seperti blokade penuh Selat Hormuz. Harga minyak tetap tinggi, misalnya di atas 100 dolar AS per barel, namun tidak melonjak drastis. Dampaknya, harga emas cenderung bertahan tinggi dengan volatilitas besar. Proyeksi menuju 5.000 dolar AS per ons atau lebih masih relevan, meski disertai fluktuasi tajam.
Kedua, eskalasi sistemik dan gangguan energi.
Ini adalah skenario berisiko tinggi namun berdampak besar. Jika terjadi blokade Selat Hormuz atau kerusakan besar pada infrastruktur energi, harga minyak bisa melesat di atas 120–130 dolar AS per barel. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi global baru dan mendorong lonjakan harga emas tambahan sekitar 5–10 persen dalam waktu singkat. Dalam skenario ekstrem, harga emas dapat mendekati atau melampaui 6.000–6.500 dolar AS per ons.
Ketiga, de-eskalasi dan normalisasi bertahap.
Jika terjadi terobosan diplomatik atau gencatan senjata, premi risiko geopolitik akan berkurang. Harga emas berpotensi terkoreksi, terutama jika diiringi penguatan dolar AS dan kebijakan moneter yang tetap ketat. Namun demikian, faktor struktural seperti defisit fiskal AS, akumulasi emas oleh bank sentral, serta fungsi emas sebagai diversifikasi portofolio tetap menjaga level harga pada “lantai” yang lebih tinggi dibanding periode sebelum 2024.
—
Pelajaran bagi Kebijakan dan Investor Ritel
Dari sudut pandang kebijakan, analisis harga emas dalam konteks konflik global sebaiknya diposisikan sebagai pemetaan risiko, bukan sekadar prediksi angka. Dalam jangka menengah, skenario yang paling mungkin adalah bertahannya harga emas pada level tinggi dengan volatilitas yang signifikan.
Di tingkat rumah tangga, fenomena antrean pembelian emas saat harga terkoreksi mencerminkan perilaku investor ritel yang menerapkan strategi buy the dip. Strategi ini dipengaruhi oleh persepsi emas sebagai aset aman, kecenderungan anchoring pada harga puncak sebelumnya, serta perilaku ikut-ikutan (herd behavior).
Dalam konteks ini, emas tidak lagi sekadar dipandang sebagai instrumen spekulatif, tetapi juga sebagai indikator sentimen global terhadap ketidakpastian geopolitik dan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi jangka panjang. (*).






