Langkah Rahmat Mirzani Djausal mendorong hilirisasi singkong melalui pengembangan modified cassava flour (mocaf) di Pringsewu bukan sekadar kebijakan teknis pertanian, melainkan sinyal kuat perubahan arah pembangunan ekonomi daerah. Di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum, inisiatif ini menjadi jawaban strategis untuk membangun kedaulatan pangan berbasis potensi lokal.
Selama ini, singkong kerap diposisikan sebagai komoditas kelas dua—melimpah, namun minim nilai tambah. Padahal, melalui hilirisasi seperti mocaf, singkong dapat naik kelas menjadi bahan baku industri pangan modern yang kompetitif. Apa yang didorong Gubernur Mirza sejatinya adalah transformasi dari ekonomi berbasis bahan mentah menuju ekonomi berbasis olahan bernilai tinggi.
Kabupaten Pringsewu, sebagaimana disampaikan Riyanto Pamungkas, memiliki fondasi yang cukup kuat: ketersediaan bahan baku, keberadaan IKM, serta dukungan pelaku usaha lokal. Ini bukan titik nol. Artinya, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar wacana, melainkan akselerasi—penguatan teknologi produksi, akses pembiayaan, hingga jaminan pasar.
Namun, hilirisasi tidak boleh berhenti pada produksi. Tantangan terbesar justru terletak pada ekosistem. Produk mocaf harus mampu menembus pasar yang selama ini dikuasai tepung terigu. Di sinilah peran pemerintah menjadi krusial: regulasi afirmatif, insentif industri, serta kampanye konsumsi pangan lokal harus berjalan seiring.
Lebih jauh, gagasan ini menyentuh aspek sosial yang lebih luas. Seperti diingatkan Achmad Subagio, industrialisasi mocaf berpotensi menciptakan lapangan kerja, memperluas inklusi ekonomi, dan menekan ketimpangan wilayah. Dengan kata lain, ini bukan hanya soal pangan, tetapi juga soal keadilan ekonomi.
Yang patut dicatat, hilirisasi sering kali tersandung pada konsistensi kebijakan. Banyak program berhenti di tengah jalan karena lemahnya koordinasi atau perubahan prioritas. Karena itu, komitmen Pemerintah Provinsi Lampung harus dijaga dalam jangka panjang. Mocaf tidak boleh menjadi sekadar proyek musiman, tetapi harus tumbuh menjadi industri yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, inisiatif ini membuka peluang bagi Lampung untuk menjadi pionir nasional dalam hilirisasi singkong. Jika dikelola serius, bukan tidak mungkin daerah ini menjadi pusat produksi mocaf yang mampu mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Mocaf adalah simbol. Ia merepresentasikan bagaimana komoditas lokal, jika dikelola dengan visi dan keberanian, dapat menjadi pilar kemandirian ekonomi. Kini, tantangannya bukan lagi pada ide, melainkan pada eksekusi. Lampung telah memulai langkah yang tepat—tinggal memastikan langkah itu tidak terhenti di tengah jalan. (*).






