Zita Hadir Bawa Harapan untuk Tiga Anak Penderita Thalasemia

Tangis Desi Rohilah, Ibu Tunggal di Kalianda Pecah

Haru menyelimuti sebuah rumah sederhana di Dusun 7 Jati Baru, Kalianda, saat Ketua Tim Penggerak PKK Lampung Selatan, Zita Anjani, mengunjungi keluarga Desi Rohilah (29), Kamis (9/4).

Kunjungan itu menjadi momen emosional bagi Desi, seorang ibu tunggal yang selama ini berjuang merawat tiga anaknya yang mengidap Thalasemia sejak usia dini.

Ketiga anaknya, Almeira Azzahra Alfatun Nisa (8), Abhan Sultanul Alam (7), dan Amara Zea Pelangi (5), harus menjalani transfusi darah rutin setiap dua minggu akibat kondisi hemoglobin yang tidak stabil. Bahkan, si bungsu Amara juga mengalami kekurangan gizi yang memperberat kondisi kesehatannya.

Di tengah keterbatasan, kehadiran Zita Anjani membawa kehangatan tersendiri. Ia menyapa dan memberi semangat langsung kepada anak-anak tersebut dengan penuh empati.

“Adik-adik harus tetap semangat, rajin belajar, supaya nanti bisa jadi orang sukses. Bisa jadi bupati, wakil bupati,” ujar Zita, disambut tatapan penuh harap.

Kepada Abhan, ia juga berpesan tentang tanggung jawab sebagai anak laki-laki. “Kalau laki-laki harus kuat, harus bantu ibu,” tambahnya.

Desi mengaku selama ini menjalani peran sebagai ibu sekaligus ayah setelah berpisah dengan suami. Ia harus memastikan anak-anaknya tetap mendapat pengobatan rutin di tengah beban hidup yang tidak ringan.

Meski demikian, dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Kesehatan menjadi penopang penting. Fasilitas transportasi untuk pengobatan ke Rumah Sakit Immanuel serta jaminan biaya melalui BPJS Kesehatan membantu keluarga ini bertahan.

Dalam kunjungan tersebut, Zita Anjani juga menyerahkan bantuan sembako dan santunan sebagai bentuk kepedulian langsung.

“Terima kasih banyak Bu Zita sudah mengunjungi kami. Saya senang sekali, terharu, campur aduk rasanya. Terima kasih juga untuk semua yang sudah peduli,” ucap Desi lirih.

Di tengah segala keterbatasan, Desi tetap berjuang agar anak-anaknya terus bersekolah. Dukungan dari pihak sekolah juga menjadi bagian penting, dengan sigap memberikan informasi jika kondisi anak menurun.

Kunjungan ini menjadi lebih dari sekadar agenda sosial. Ia menghadirkan harapan di tengah keterbatasan, sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik program kesehatan, ada perjuangan nyata yang dijalani masyarakat setiap hari.

Di rumah sederhana itu, harapan mungkin hadir dalam bentuk sederhana—namun cukup untuk menguatkan langkah seorang ibu dan masa depan anak-anaknya. (dbs).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *