Sikambara: Sepakbola Harus Punya Hukuman dan Keadilan, Jangan Semua Diselesaikan dengan Kompromi
BANDARLAMPUNG — Upaya penyelesaian kasus dugaan kekerasan dalam kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Dewa United dan Bhayangkara FC akhirnya berujung damai melalui jalur mediasi. Namun, keputusan tersebut tidak serta-merta meredakan perdebatan publik. Sebaliknya, suara keras justru menguat agar tetap ada sanksi tegas demi menjaga marwah dan masa depan sepakbola nasional.
Mediasi kedua klub yang berlangsung di Dewa United Arena, Pagedangan, Banten, Rabu (22/4), menjadi titik balik penyelesaian insiden yang terjadi di Stadion Citarum, Semarang (19/4). Meski kesepakatan damai tercapai, sejumlah pihak menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh menghapus aspek penegakan disiplin.
Pelatih asal Lampung, Coach Dino Sefriyanto, menyambut baik langkah damai tersebut namun menekankan bahwa aturan tetap harus ditegakkan.
“Alhamdulilah damai 🙌🏼🙌🏼 … ini yang namanya football family,” ujar Dino, Rabu (22/4).
“Tetap ada sanksi tegas dari komdis,” tegasnya menambahkan.
Nada serupa juga disampaikan Ketua Sikambara Lampung yang juga Ketua Pajero Indonesia One Chapter Krakatau sekaligus CEO Rumah Makan Minang Indah Group, Junaedi, yang menilai perdamaian tidak boleh melemahkan hukum dalam sepakbola.
“Damai, tapi sanksi tegas harus diterapkan. Apa kata dunia nanti kalau semua dikompromikan, bagaimana mau maju sepakbola Indonesia,” kata Junaedi.
“Sepakbola harus punya reward and punishment. Ada penghargaan dan ada hukuman,” tambahnya.
Sementara itu, dari pihak lain juga muncul pandangan agar pendekatan damai tetap diiringi evaluasi menyeluruh, termasuk terhadap perangkat pertandingan dan panitia pelaksana yang dinilai gagal mengantisipasi insiden.
“Perdamaian itu baik karena mereka masih pemain muda, tapi sanksi harus ditegakkan untuk rasa keadilan,” ujar salah satu pemerhati sepakbola.
“Sekaligus evaluasi panpel dan perangkat pertandingan agar kejadian serupa tidak terulang,” lanjutnya. (Cah).
Sebelumnya, Direktur Bhayangkara Akademi, Agus Rumekso Carel, telah menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan bahwa insiden tersebut terjadi karena faktor emosi pemain muda yang belum stabil.
Dengan tercapainya perdamaian ini, publik kini menanti langkah Komite Disiplin untuk memastikan bahwa prinsip keadilan, pembinaan, dan ketegasan tetap berjalan seimbang demi masa depan sepakbola Indonesia yang lebih sehat dan profesional. (*).






