EKONOMI LAMPUNG MELAJU, TAPI PR BESAR MASIH MENANTI

Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang mencapai 5,58 persen (year-on-year) pada Triwulan I 2026 patut diapresiasi sebagai sinyal positif. Angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung ini menempatkan daerah ini sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di Sumatera, hanya berada di bawah Kepulauan Riau.

Di atas kertas, capaian ini menunjukkan fondasi ekonomi Lampung semakin kokoh. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi besar terhadap struktur ekonomi daerah. Di saat yang sama, meningkatnya mobilitas masyarakat dan sektor jasa juga memperkuat denyut ekonomi lokal.

Namun, di balik angka yang menggembirakan itu, terdapat catatan penting yang tidak boleh diabaikan. Kontraksi ekonomi sebesar 1,08 persen secara triwulanan menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya stabil dan masih sangat dipengaruhi faktor musiman. Ketergantungan pada siklus awal tahun, terutama melambatnya proyek konstruksi dan industri, menjadi sinyal bahwa struktur ekonomi Lampung masih rentan terhadap fluktuasi jangka pendek.

Konsumsi rumah tangga yang mendominasi lebih dari 60 persen PDRB memang menjadi bantalan utama, tetapi ketergantungan yang terlalu besar pada sektor konsumsi juga menyimpan risiko. Ketika daya beli masyarakat melemah, laju pertumbuhan ekonomi dapat dengan cepat ikut tertekan.

Di sisi lain, meski investasi (PMTB) tumbuh positif secara tahunan, kontraksi secara triwulanan menunjukkan bahwa iklim investasi masih membutuhkan penguatan. Percepatan realisasi proyek strategis dan kepastian regulasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan arus modal ke daerah ini.

Sektor pariwisata dan akomodasi yang tumbuh hingga dua digit menjadi salah satu titik terang baru. Namun, sektor ini masih belum cukup kuat untuk menjadi penopang utama ekonomi jangka panjang tanpa dukungan infrastruktur dan konektivitas yang lebih merata.

Dengan capaian saat ini, Lampung memang sedang berada di jalur yang tepat. Tetapi tantangan ke depan bukan sekadar mempertahankan angka pertumbuhan, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut lebih berkualitas, merata, dan tahan terhadap guncangan.

Pertanyaan yang perlu dijawab ke depan adalah: apakah pertumbuhan ini benar-benar sudah menyentuh akar kesejahteraan masyarakat, atau masih berhenti pada angka statistik?

Di sinilah pekerjaan rumah terbesar pemerintah daerah—memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya cepat, tetapi juga kuat dan berkelanjutan. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *