Irjen Helmy Santika Datang Membawa Asa, Lagu “Teman Sejati” Mengalun di Tengah Perjuangan Melawan Penyakit
BANDAR LAMPUNG – Siang itu, tak ada suara sirene. Tak ada protokoler yang berjarak. Yang terdengar justru petikan senar persahabatan dan tawa yang pecah di ruang tamu sederhana sebuah rumah di Perumahan Griya Damai, Bandar Lampung.
Di atas kasur lantai, Tri Purna Jaya, jurnalis senior Kompas.com, masih berjuang melawan penyakit Ensefalopati Hepatik yang menggerogoti kesehatannya. Wajahnya tampak pucat, namun sorot matanya berubah terang ketika seorang tamu istimewa melangkah masuk.
Irjen Pol Helmy Santika datang bukan sebagai jenderal bintang dua. Ia hadir sebagai sahabat.
Perwira tinggi Itwasum Polri yang pernah menjabat Kapolda Lampung itu sengaja terbang dari Jakarta untuk menjenguk dan memberi semangat kepada pria yang akrab disapa Mas Tri tersebut.
Pertemuan itu seketika menghapus sekat jabatan dan profesi.
Mereka kembali berbagi cerita, mengenang masa-masa ketika Helmy masih bertugas di Lampung. Persahabatan yang selama ini terjalin melalui dunia kerja dan kecintaan pada musik kembali mengalun hangat di tengah ujian hidup yang sedang dihadapi Tri.
“Jangan dulu mikirin kerjaan. Fokus sembuh saja dulu. Berita bisa dikejar nanti, tapi kesehatan itu yang paling penting,” ujar Helmy sembari menggenggam tangan sahabatnya.
Kalimat sederhana itu terdengar lebih bermakna daripada pidato panjang. Di tengah kondisi fisik yang menurun, Tri mendapatkan suntikan semangat yang tidak bisa diukur dengan angka.
Helmy memahami betul kerasnya ritme profesi wartawan. Jam kerja yang tidak mengenal waktu, tekanan deadline, hingga pola hidup yang kerap berantakan menjadi risiko yang sering luput disadari.
“Profesi wartawan itu capek. Kadang makannya nggak teratur, jam istirahat juga berantakan. Jadi sekarang manfaatkan waktu buat pemulihan sampai benar-benar fit lagi,” pesannya.
Namun momen paling mengharukan hadir ketika Helmy memutar lagu ciptaannya sendiri berjudul Teman Sejati.
Lagu itu mengalun pelan memenuhi ruangan. Bukan sekadar musik, melainkan pesan tentang arti kesetiaan seorang sahabat yang tetap hadir saat hidup sedang berada di titik terberat.
Nada demi nada seakan menjadi terapi batin bagi Tri.
Di tengah perjuangan melawan penyakit, lagu tersebut menghadirkan keyakinan bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian.
Dukungan moral yang mengalir dari berbagai pihak membuat beban yang selama ini dipikul terasa lebih ringan.
“Saya benar-benar nggak nyangka beliau mau datang langsung. Senang rasanya masih diingat dan diperhatikan di tengah kondisi seperti sekarang,” tutur Tri dengan suara perlahan.
Bagi dirinya, kunjungan itu jauh melampaui formalitas seorang pejabat negara.
“Tadi banyak ketawa juga. Beliau memang dari dulu kalau ngobrol nggak pernah kaku. Jadi saya merasa seperti lagi ketemu teman lama, bukan sedang dijenguk pejabat,” katanya.
Siang itu, ruang tamu sederhana tersebut menjadi saksi bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri.
Tak ada panggung besar. Tak ada seremoni. Hanya dua sahabat yang dipertemukan oleh kepedulian dan ketulusan.
Di tengah derasnya arus kehidupan yang sering memisahkan manusia oleh jabatan, profesi, dan status sosial, Irjen Helmy Santika menunjukkan bahwa nilai tertinggi tetaplah kemanusiaan.
Dan ketika lagu Teman Sejati berhenti mengalun, pesan yang ditinggalkannya masih menggema kuat:
Bahwa sahabat sejati tidak selalu datang membawa solusi. Terkadang, cukup hadir, mendengar, dan menguatkan.
Karena dalam setiap perjuangan hidup, harapan sering kali lahir dari kepedulian yang tulus. (*).






