Akademisi Unila Nilai Biaya Logistik Membengkak, Pengguna Mulai Tinggalkan Tol
BANDAR LAMPUNG – Kenaikan tarif Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Selain dinilai membebani pelaku usaha, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik, menekan daya beli masyarakat, hingga mendorong pengguna kembali memilih jalur non-tol.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin, mengatakan indikasi dampak kenaikan tarif mulai terlihat dari berkurangnya volume kendaraan yang melintas di ruas tol.
Menurutnya, kenaikan biaya tol memaksa pelaku usaha, khususnya sektor angkutan logistik, memilih antara memangkas keuntungan atau membebankan kenaikan biaya distribusi kepada konsumen melalui harga jual.
“Pada akhirnya masyarakat sebagai konsumen yang akan menanggung kenaikan biaya tersebut. Ini terjadi ketika daya beli masyarakat juga sedang menghadapi berbagai tekanan,” ujarnya, Rabu (8/7).
Usep menjelaskan, beban dunia usaha tidak hanya berasal dari tarif tol. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM non-subsidi, hingga antrean BBM subsidi turut meningkatkan biaya operasional angkutan barang.
Ia menilai komoditas yang mudah rusak seperti buah dan sayuran tetap membutuhkan jalur tol demi menjaga kualitas distribusi. Namun, untuk komoditas yang lebih tahan lama, pelaku usaha diperkirakan akan semakin banyak beralih ke jalur arteri demi menekan biaya.
Senada, ekonom dan pakar Pengembangan Wilayah Universitas Lampung, Dr. Asrian Hendi Caya, menilai jalan tol merupakan instrumen infrastruktur yang seharusnya memberikan manfaat ekonomi seluas-luasnya bagi masyarakat, bukan semata mengejar keuntungan finansial.
Menurutnya, tarif tol bersifat elastis. Kenaikan tarif akan mendorong masyarakat dan angkutan barang kembali menggunakan jalan non-tol, sehingga fungsi jalan tol untuk mempercepat mobilitas orang dan barang menjadi kurang optimal.
“Kalau tarif semakin tinggi, pengguna akan menghitung ulang biaya perjalanan. Akhirnya banyak yang memilih jalan non-tol meski waktu tempuh lebih lama. Ini perlu menjadi bahan evaluasi agar tujuan pembangunan infrastruktur tetap tercapai,” tegasnya. (*).






