JAPFA TANTANG DUNIA USAHA LAWAN STUNTING

Retno Artsanti: Jangan Bebankan ke Satu Perusahaan, MBG dan JAPFA for Kids Harus Bersinergi

BANDARLAMPUNG – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) mengajak dunia usaha di Provinsi Lampung untuk tidak tinggal diam dalam upaya menekan angka stunting. Perusahaan menegaskan persoalan gizi anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun satu perusahaan, tetapi membutuhkan gerakan bersama lintas sektor agar hasilnya benar-benar berdampak.

Pesan tersebut disampaikan Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, dalam konferensi pers Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 di Hotel Aston Bandarlampung, Kamis (30/7).

Retno mengatakan, JAPFA memilih Kabupaten Lampung Selatan sebagai lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids bukan karena daerah itu memiliki angka stunting tertinggi, melainkan sebagai bentuk komitmen perusahaan sesuai kapasitas yang dimiliki.

Padahal, berdasarkan data prevalensi stunting, masih terdapat kabupaten lain di Lampung seperti Lampung Barat, Way Kanan, dan Lampung Utara yang memiliki angka stunting berkisar 20 hingga 22 persen.

“Kami ingin teman-teman media ikut menyampaikan kepada publik bahwa ada upaya menurunkan stunting di Lampung Selatan. Tapi kami juga ingin menyampaikan bahwa di Lampung ini banyak perusahaan, bukan hanya JAPFA. Tangan kami hanya dua. Stunting bukan tugas JAPFA saja, tetapi tugas kita bersama,” ujar Retno.

Menurutnya, keterlibatan sektor swasta harus diperluas agar intervensi penurunan stunting dapat menjangkau lebih banyak daerah.

“Kami membuka kolaborasi seluas-luasnya. Kami membutuhkan tim pendukung agar program ini berhasil. Kami tidak mungkin bekerja sendiri,” katanya.

Retno menjelaskan, JAPFA for Kids dilaksanakan di sekolah dasar negeri dengan pendekatan yang tidak hanya memberikan asupan protein berupa telur, tetapi juga melakukan pendampingan selama enam bulan.

Setiap bulan dilakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan peserta sebagai bahan evaluasi perkembangan gizi anak. Di akhir program, hasil pendampingan didiseminasikan bersama pemerintah daerah, kepala sekolah, dan para guru agar program tetap berlanjut.

“Setelah enam bulan pendampingan, tongkat estafet kami serahkan kepada pemerintah daerah agar program ini terus berjalan dan manfaatnya tetap dirasakan anak-anak,” jelasnya.

Retno juga menepis anggapan bahwa JAPFA for Kids akan berbenturan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah.

Menurutnya, kedua program justru saling menguatkan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

“MBG adalah program yang sangat baik karena sudah memenuhi unsur protein, karbohidrat, dan vitamin. Program kami tidak tumpang tindih. MBG diberikan di sekolah, sedangkan JAPFA for Kids memberikan telur untuk dikonsumsi di rumah pada malam hari. Jadi, keduanya saling melengkapi,” tegasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, dunia usaha, media, sekolah, dan masyarakat dapat menjadi kekuatan besar untuk mempercepat penurunan stunting di Lampung.

“Kalau semua bergerak bersama, saya optimistis target penurunan stunting akan lebih cepat tercapai. Yang dibutuhkan bukan hanya satu program, tetapi kolaborasi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *