EKONOMI LAMPUNG TUMBUH 5,29%, SAATNYA NAIK KELAS

Wakil Ketua ISEI Lampung: Pertumbuhan Sudah Baik, Namun Kualitas Pekerjaan, Hilirisasi, dan Pendapatan Masyarakat Harus Menjadi Fokus Utama

BANDAR LAMPUNG – Pertumbuhan ekonomi Lampung yang mencapai 5,29 persen pada triwulan II-2026 menempatkan provinsi ini sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di Sumatera. Capaian tersebut memperlihatkan fondasi ekonomi daerah masih cukup kuat, ditopang sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, serta meningkatnya konsumsi pemerintah.

Meski demikian, kalangan akademisi mengingatkan bahwa tingginya angka pertumbuhan belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pembangunan ekonomi yang merata. Tantangan berupa dominasi pekerja informal, ketergantungan pada sektor pertanian, serta masih rendahnya nilai tambah industri menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Dr. Saring Suhendro, S.E., M.Si., Ak., CA., akademisi, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung sekaligus Wakil Ketua ISEI Lampung, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Lampung patut diapresiasi, namun tidak boleh hanya dilihat dari besarnya angka.

“Angka pertumbuhan 5,29 persen tentu cukup baik dan menempatkan Lampung di posisi kedua di Sumatera. Tetapi kalau dilihat lebih dalam, pertumbuhannya belum sepenuhnya menyebar. Penopangnya masih terkonsentrasi pada pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan. Soal kualitas ekonomi, yang harus dilihat adalah apakah pekerjaan formal bertambah dan pendapatan masyarakat ikut meningkat. Dua indikator itu belum bergerak secepat angka pertumbuhan,” ujarnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Lampung masih dipengaruhi kombinasi faktor struktural dan musiman. Sektor perdagangan tumbuh 7,98 persen, industri pengolahan 6,99 persen, sementara pertanian melonjak 22,40 persen secara triwulanan karena musim panen.

“Perdagangan dan industri pengolahan harus menjadi penopang utama ke depan. Musim panen akan berganti, begitu pula percepatan belanja pemerintah. Karena itu, hasil pertanian harus lebih banyak diolah di Lampung agar pertumbuhan tidak bergantung pada musim,” katanya.

Saring juga menyoroti besarnya potensi Lampung sebagai salah satu pusat ekonomi Sumatera dengan kontribusi 10,14 persen terhadap perekonomian regional. Namun menurutnya, posisi strategis tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

“Lampung memiliki produksi komoditas besar, dekat dengan Pulau Jawa, dan didukung Pelabuhan Panjang. Tantangannya adalah membangun rantai pasok yang kuat antara sentra produksi, industri, pergudangan, hingga pelabuhan agar nilai tambah tidak dinikmati daerah lain,” jelasnya.

Ia menegaskan sektor pertanian tetap menjadi kekuatan utama karena menyerap sekitar 44 persen tenaga kerja, namun ketergantungan terhadap cuaca dan fluktuasi harga komoditas juga menjadi risiko besar.

“Produksi tinggi belum tentu membuat petani sejahtera. Yang harus dibangun bukan hanya produksinya, tetapi juga irigasi, perlindungan gagal panen, gudang, kepastian pasar, dan industri pengolahan sehingga pendapatan petani lebih stabil,” ujarnya.

Di sisi kesejahteraan, Saring mengapresiasi turunnya angka kemiskinan menjadi 9,31 persen atau sekitar 831,89 ribu jiwa. Namun ia mengingatkan masih banyak masyarakat yang berada sedikit di atas garis kemiskinan.

“Mereka memang sudah tidak masuk kategori miskin, tetapi masih sangat rentan. Gagal panen, sakit, kehilangan pekerjaan, atau kenaikan harga pangan bisa membuat mereka kembali miskin. Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus diikuti penguatan pendapatan dan perlindungan sosial,” katanya.

Ia juga menyoroti masih rendahnya proporsi pekerja formal yang baru mencapai 30,83 persen.

“Persoalan Lampung bukan hanya menyediakan pekerjaan, tetapi menyediakan pekerjaan yang berkualitas. Hampir tujuh dari sepuluh pekerja masih berada di sektor informal dengan pendapatan yang tidak tetap dan perlindungan yang terbatas,” tegasnya.

Menurut Saring, strategi pembangunan ke depan harus difokuskan pada pengembangan agroindustri dan logistik agar mampu menciptakan lapangan kerja formal sekaligus meningkatkan nilai tambah produk daerah.

“Investasi jangan hanya diukur dari besar kecilnya nilai rupiah. Yang lebih penting adalah berapa tenaga kerja lokal yang terserap, berapa banyak bahan baku daerah yang digunakan, dan seberapa besar UMKM masuk ke rantai pasok industri,” katanya.

Ia menambahkan, transformasi menuju ekonomi bernilai tambah sebenarnya mulai terlihat melalui pertumbuhan industri pengolahan dan perdagangan. Namun sebagian besar industri masih berada pada tahap pengolahan awal.

“Lampung harus memperbanyak produk turunan, standardisasi, serta merek lokal. Kalau industri, riset, pembiayaan, dan kepastian pasokan tidak disambungkan, kita hanya akan menjadi daerah penghasil bahan baku,” ujarnya.

Memasuki semester II-2026, Saring mengingatkan adanya ancaman dari faktor eksternal maupun domestik, mulai dari gejolak geopolitik, harga komoditas, nilai tukar, biaya energi, hingga perlambatan konsumsi rumah tangga.

“Semester kedua akan sangat ditentukan kemampuan menjaga harga pangan, mempertahankan produksi, dan memastikan investasi benar-benar terealisasi. Kalau rumah tangga dan dunia usaha tetap bergerak, pertumbuhan ekonomi Lampung masih dapat dipertahankan,” katanya.

Menutup pemaparannya, Saring memberikan rapor positif terhadap kinerja ekonomi Lampung, namun mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan.

“Rapor ekonomi Lampung cukup baik. Pertumbuhan mencapai 5,29 persen, kemiskinan turun, jumlah orang bekerja bertambah, dan industri pengolahan serta perdagangan tumbuh positif. Tetapi ukuran keberhasilan ke depan bukan lagi sekadar mampu tumbuh di atas lima persen. Yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan itu membuat pendapatan keluarga lebih stabil dan pekerjaan masyarakat menjadi lebih pasti,” pungkasnya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *