Festival Krakatau Disorot, Pelaku Wisata: Jangan Jadi Seremoni

Apindo Pertanyakan Minimnya Informasi dan Pelibatan Pelaku Usaha Pariwisata

Bandarlampung – Penyelenggaraan Festival Krakatau XXXV Tahun 2026 mendapat sorotan dari kalangan pelaku usaha pariwisata. Di tengah persiapan agenda tahunan yang telah memasuki usia 35 tahun, pelaku industri wisata mempertanyakan minimnya sosialisasi, informasi kegiatan, serta pelibatan mereka dalam penyelenggaraan festival.

Sorotan tersebut disampaikan Adi Adiyatama dari Apindo dalam percakapan bersama sejumlah pihak. Ia menilai Festival Krakatau seharusnya tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan momentum strategis untuk menggerakkan industri pariwisata dan ekonomi masyarakat Lampung.

Adi mengaku heran karena informasi mengenai pelaksanaan festival justru sulit diperoleh masyarakat maupun pelaku usaha. Padahal, menurut dia, wisatawan sudah mulai menanyakan kapan Festival Krakatau digelar.

“Wisatawan tanya ke kami kapan Festival Krakatau ada. Mereka share hanya di akun pariwisata saja. Padahal masyarakat harus tahu kapan dan di mana,” ujar Adi, Senin (9/8/2026).

Ia juga mempertanyakan pola pelibatan pelaku usaha pariwisata. Menurutnya, pelaku usaha memang sempat diajak dalam rapat, namun komunikasi dan koordinasi dinilai berhenti pada tahap tersebut.

“Kami ini mau bantu, tapi melibatkan hanya sekadar diajak rapat. Setelah itu omon-omon lagi. Padahal sudah dekat, tapi tidak ada informasi yang menandakan kalau Festival Krakatau ada,” katanya.

Kritik lebih tajam disampaikan Adi terkait rencana penyelenggaraan Festival Krakatau tahun ini. Ia mengaku keberatan jika festival yang telah menjadi agenda penting Lampung tersebut dibuat secara biasa-biasa saja.

“Festival Krakatau sudah 35 tahun. Bukan festival kelas RT yang mereka seenaknya akan buat biasa-biasa saja,” tegasnya.

Menurut Adi, masukan dari pelaku wisata semestinya menjadi bagian penting dalam perencanaan festival. Sebab, sektor pariwisata memiliki dampak langsung terhadap lapangan kerja, pergerakan ekonomi, hotel, restoran, transportasi, UMKM hingga berbagai usaha pendukung lainnya.

Ia berharap Pemerintah Provinsi Lampung melakukan evaluasi terhadap pola pengelolaan pariwisata agar berbagai agenda wisata benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Saya berharap bagaimana pariwisata harus di-maintenance, bukan untuk kita, tapi untuk masyarakat Lampung. Sektor pariwisata cukup dominan menyumbangkan tenaga kerja yang luar biasa,” ujarnya.

Sorotan pelaku usaha tersebut mendapat respons dari kalangan media. H. Ardiansyah SH akarab disapa Bang Aca dari Radar Lampung mengaku telah menyampaikan berbagai pemikiran dan masukan mengenai pengembangan pariwisata kepada Gubernur Lampung.

Menurutnya, tantangan utama pemerintah saat ini adalah bagaimana mengembangkan industri pariwisata agar besarnya potensi kunjungan wisatawan dapat benar-benar dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi daerah.

“Tantangan Kepala Dinas Pariwisata sekarang adalah mengembangkan industri pariwisata. Lampung harus bisa memanfaatkan kunjungan wisata yang sangat besar itu,” kata Bang Aca.

Ia menambahkan, evaluasi terhadap kinerja pengelolaan pariwisata merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk memastikan sektor tersebut berkembang secara optimal.

Sementara itu, Festival Krakatau XXXV 2026 dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung. Festival tahun ini mengusung tema “Nengah Nyappur” dan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Sejumlah agenda telah disiapkan, antara lain pertunjukan teatrikal detik-detik letusan Gunung Krakatau 1883, Karnaval Tapis yang melibatkan sekitar 6.000 peserta, Krakatau Culinary Festival dan Coffee Experience.

Selain itu, terdapat kompetisi solo song, modern dance, festival band, Seruwit Battle (Serbet), lomba mewarnai, fashion show anak berkebutuhan khusus, Krakatau Run serta berbagai agenda pendukung lainnya.

Dengan usia penyelenggaraan yang telah mencapai 35 tahun, Festival Krakatau diharapkan tidak berhenti sebagai kalender seremoni tahunan. Pelaku usaha pariwisata mendorong agar festival menjadi mesin promosi destinasi, magnet wisatawan, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat Lampung.

Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana festival digelar, tetapi seberapa besar dampaknya bagi pariwisata dan masyarakat Lampung. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *