RYCKO MENOZA: Tradisi Lokal Jangan Sekadar Jadi Pelengkap
BANDAR LAMPUNG — Pelaksanaan Festival Krakatau (FK) 2026 mendapat sorotan dari Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar daerah pemilihan Lampung I sekaligus Ketua Harian DPP Lampung Sai, H. Rycko Menoza SZP, M.B.A. Ia menilai festival yang berlangsung 25–30 Agustus 2026 tersebut belum sepenuhnya menempatkan budaya Lampung sebagai ruh utama kegiatan.
Rycko menilai rangkaian acara Festival Krakatau 2026 masih lebih banyak menonjolkan kreasi dan hiburan modern dibandingkan tradisi serta karakter budaya masyarakat Lampung secara utuh.
“Belum. Dikarenakan penampilan saat ini hanya mempromosikan kreasi saja, belum menampilkan tradisi dan karakter di dalam masyarakat Lampung seutuhnya,” kata Rycko, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, keberadaan tapis dan siger dalam rangkaian festival sudah cukup baik. Namun, ruang untuk menampilkan kekayaan musik, tari, bahasa, kuliner, serta kesenian tradisional Lampung dinilai masih terbatas.
“Untuk tapis dan siger sudah cukup sajian dan penampilannya. Akan tetapi untuk musik, tari, bahasa, kuliner dan kesenian sangat kurang kesempatan untuk ditampilkan. Porsi untuk kesenian tradisi masih jauh dibandingkan dengan penampilan musik modern,” ujarnya.
Krakatau Harus Kembali ke Identitas Lampung
Rycko menegaskan Festival Krakatau seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kembali identitas Lampung. Menurut dia, Gunung Krakatau memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah dan citra daerah sehingga unsur sejarah Krakatau perlu mendapat ruang lebih besar dalam festival.
“Gunung Krakatau adalah salah satu identitas Lampung. Tentunya sangat tepat sekali apabila di momen Festival Krakatau ini kita tampilkan dan kita isi dengan sejarah Gunung Krakatau,” tegasnya.
Ia juga menilai kehadiran artis dan hiburan nasional memang dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Namun, jika porsinya terlalu dominan, dikhawatirkan justru mengurangi ruang bagi budaya dan seniman daerah.
“Dengan tampilnya hiburan dan artis-artis nasional, budaya Lampung berpotensi menjadi lebih berkurang dikarenakan kurangnya kesempatan budaya daerah untuk tampil,” kata Rycko.
Padahal, menurutnya, Festival Krakatau semestinya tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan nilai dan falsafah hidup masyarakat Lampung kepada publik.
Ia menyebut nilai-nilai Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan merupakan bagian penting yang dapat memperkuat karakter Festival Krakatau.
“Festival Krakatau sudah mencerminkan nilai-nilai dan falsafah hidup masyarakat Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan,” jelasnya.
Tokoh Adat Harus Dilibatkan
Rycko menawarkan sejumlah langkah agar Festival Krakatau ke depan semakin kuat sebagai festival berbasis identitas Lampung. Salah satunya dengan melibatkan lebih banyak tokoh adat, budaya dan seni dalam penyusunan program.
“Pertama, libatkan tokoh adat, tokoh budaya, tokoh seni dan Dinas Pariwisata untuk saling bekerja sama menyusun program kegiatan sehingga layak untuk dipertunjukkan. Kemudian beri ruang bagi pelaku seni untuk menampilkan kesenian daerah atau kesenian lokal,” paparnya.
Ia menegaskan, penguatan budaya lokal tidak berarti menutup ruang bagi hiburan modern maupun artis nasional. Namun, keseimbangan antara hiburan, kreativitas dan tradisi lokal harus dijaga agar identitas Lampung tidak kehilangan tempat.
“Belum sepenuhnya budaya Lampung sebagai ruh dalam Festival Krakatau, karena banyak sekali kesenian dan budaya yang muncul bukan tradisi lokal Lampung. Budaya Lampung hanya sebatas pelengkap,” pungkas Rycko.
Festival Krakatau 2026 sendiri mengusung sejumlah agenda, mulai dari perlombaan seni, modern dance, festival band, kopi, Seruit Battle, Mengan Balak, hingga Krakatau Run. Opening ceremony dijadwalkan pada 29 Agustus 2026, sedangkan rangkaian festival ditutup melalui Pesona Kemilau Krakatau pada 30 Agustus 2026 dengan menghadirkan hiburan artis nasional.
Sorotan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi penyelenggara agar Festival Krakatau tidak berhenti sebagai agenda hiburan tahunan, tetapi benar-benar menjadi panggung utama bagi identitas, sejarah, seni, tradisi, dan kebudayaan Lampung. (*)






