BELA NEGARA GEN Z: BUKAN LAGI SENAPAN, TAPI KEYBOARD DAN KARAKTER

Pangdam XXI/Radin Inten Bekali 1.350 Mahasiswa Baru Teknokrat Hadapi Ancaman Digital

BANDAR LAMPUNG — Bela negara tidak lagi semata-mata identik dengan senjata dan kekuatan fisik. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ruang digital telah menjadi medan strategis yang menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis, penguasaan teknologi, literasi informasi, serta karakter kebangsaan yang kuat.

Pesan tersebut disampaikan Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, S.Sos., M.Si.(Han), saat memberikan kuliah umum kepada 1.350 mahasiswa baru Universitas Teknokrat Indonesia, Bandar Lampung, Kamis (17/9/2026).

Mengusung tema “Bela Negara Zaman Now: Relevansi dan Strategi Bela Negara untuk Generasi Z – Bukan Lagi Senapan, Tapi Keyboard dan Karakter”, Pangdam memaparkan berbagai strategi yang dapat dilakukan generasi Z untuk berkontribusi dalam menjaga bangsa di era digital.

Menurutnya, perubahan zaman turut mengubah bentuk ancaman terhadap negara. Ruang siber kini menghadirkan tantangan berupa disinformasi, manipulasi algoritma, proxy war ideologi, ancaman terhadap infrastruktur kritis hingga pencurian data nasional.

Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Generasi muda harus mampu menjadi pengguna yang kritis, cerdas dan bertanggung jawab.

LIMA STRATEGI

Pangdam XXI/Radin Inten mendorong sejumlah pendekatan untuk memperkuat kesadaran bela negara di kalangan Gen Z. Strategi itu meliputi penguatan literasi digital, gamifikasi dan war gaming digital, storytelling Pancasila, riset teknologi tepat guna, serta program Duta Digital Pancasila.

Pendekatan tersebut diarahkan agar nilai-nilai kebangsaan dapat disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Pangdam juga mengajak mahasiswa membangun kebiasaan sederhana namun penting di ruang digital: “cek dulu sebelum share.” Verifikasi informasi harus menjadi budaya agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh maupun ikut menyebarkan informasi yang tidak benar.

Selain itu, mahasiswa didorong menciptakan narasi positif mengenai daerah serta aktif dalam komunitas yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

LITERASI SIBER MASUK KAMPUS

Pangdam XXI/Radin Inten juga mendorong Universitas Teknokrat Indonesia mengintegrasikan literasi siber secara lebih kuat dalam mata kuliah Kewarganegaraan.

Pendekatan project-based learning dinilai dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menggabungkan kemampuan teknologi dengan nilai-nilai kebangsaan melalui karya nyata.

Dengan demikian, bela negara bagi generasi Z tidak harus selalu dilakukan melalui medan tempur. Pengabdian dapat diwujudkan melalui kemampuan menguasai teknologi, menjaga ruang digital, menyaring informasi, menghasilkan inovasi, serta membangun karakter yang berlandaskan Pancasila.

“Bela negara zaman now” pun menjadi tantangan baru bagi mahasiswa: menggunakan keyboard dengan cerdas, teknologi dengan bertanggung jawab, dan karakter sebagai benteng utama menjaga bangsa. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *