Opini Publik | Oleh Redaksi
Wacana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) kembali menyeruak ke permukaan. Kali ini, dorongan agar proyek raksasa ini masuk ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) bukan sekadar nostalgia infrastruktur, melainkan sebuah tuntutan logis bagi masa depan ekonomi Indonesia.
Secara teoritis, argumentasi para akademisi dan legislator sangatlah kokoh. Jawa dan Sumatra adalah “jantung” Indonesia yang menampung hampir 80 persen populasi. Menyatukan keduanya melalui jalur darat permanen bukan hanya soal memangkas waktu tempuh dari Pelabuhan Bakauheni ke Merak, melainkan tentang menghapus sekat logistik yang selama ini rentan terganggu cuaca dan antrean panjang.
Lebih dari Sekadar Beton
JSS harus dilihat sebagai instrumen pemerataan. Selama ini, Sumatra memiliki potensi besar yang kerap terhambat oleh konektivitas yang “setengah hati”. Dengan adanya jembatan ini, akselerasi investasi di Sumatra diprediksi akan melonjak, menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru yang selama ini hanya terpusat di pulau Jawa.
Namun, kita tidak boleh menutup mata pada peringatan penting: Risiko Ketimpangan Baru. Jika pemerintah hanya fokus membangun “jembatan emas” ini tanpa memperkuat infrastruktur pendukung di daerah sekitarnya, JSS hanya akan menjadi monumen megah yang tidak menyentuh akar rumput. Jangan sampai interkoneksi ini justru semakin menyedot sumber daya ke pusat dan meninggalkan wilayah pelosok dalam ketertinggalan.
Kemandirian dan Transparansi
Hal lain yang patut diapresiasi adalah komitmen untuk menggunakan skema investasi non-APBN. Ini adalah langkah berani yang menunjukkan bahwa proyek skala dunia ini bisa dijalankan tanpa membebani keuangan negara secara langsung. Namun, transparansi dan pelibatan pakar domestik menjadi harga mati. JSS harus menjadi panggung transfer teknologi bagi putra-putri bangsa, bukan sekadar etalase teknologi asing.
Kesimpulan
Mendorong JSS masuk ke PSN adalah langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi. Namun, pemerintah harus memastikan bahwa jembatan ini dibangun dengan kajian sosiologis dan lingkungan yang matang. JSS tidak boleh hanya menjadi proyek fisik, ia harus menjadi jembatan bagi kesejahteraan yang merata dari ujung Sumatra hingga pelosok Nusantara. (Red).






