Kelola Limbah Organik Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Mahasiswa Unila Masuk 60 Besar Seminar Berdampak 2026
Bandarlampung – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Lampung (Unila). Tim Pemberdayaan Masyarakat (PM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unila berhasil menembus 60 besar terbaik nasional dari 263 tim dalam ajang Seminar Berdampak 2026 melalui inovasi pengelolaan limbah organik berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).
Atas capaian tersebut, tim mahasiswa Unila mendapat undangan khusus dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk mempresentasikan inovasinya di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.
Program bertajuk “Transformasi Limbah Organik sebagai Inovasi Hijau untuk Pertanian, Perikanan, Peternakan, dan Ekonomi Desa” ini dipimpin Ketua Tim PM-BEM Unila, Muhamad Dzuhri, bersama Dosen Pembina Yusuf Perdana, S.Pd., M.Pd., dengan lokasi implementasi di Desa Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat.
Sekretaris Tim PM-BEM Unila, Tri Rizki Handayani, menjelaskan inovasi tersebut lahir sebagai solusi atas persoalan pengelolaan limbah organik yang mencapai sekitar dua ton setiap hari di Desa Pasar Krui.
“Kami membawa solusi konkret atas persoalan dua ton limbah organik harian di Desa Pasar Krui yang selama ini belum terkelola secara optimal. Melalui teknologi soluble liquid, limbah dapat diolah kurang dari 24 jam tanpa bau dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Teknologi soluble liquid (SL) yang dikembangkan memanfaatkan larutan biang homogen dari 33 jenis tanaman famili Zingiberaceae, minyak nabati, minyak hewani, serta air lindi sebagai bioaktivator hayati. Teknologi tersebut mampu mempercepat proses dekomposisi limbah organik sekaligus menghasilkan mikroorganisme pengurai yang bermanfaat.
Dari inovasi tersebut lahir dua produk unggulan, yakni Refnila (Rebio Fertilizer Universitas Lampung) berupa pupuk organik cair dengan enam varian untuk pertanian dan perikanan, serta Rafnila (Rebio Animal Feed Universitas Lampung) berupa pakan dan suplemen unggas bernutrisi.
Tak hanya berhenti pada riset, tim mahasiswa juga melakukan transfer teknologi kepada 20 pemuda karang taruna dan delapan anggota kelompok nelayan di Desa Pasar Krui. Mereka turut menghibahkan mesin pencacah sampah organik, alat press ulir, dan mesin penggiling limbah ikan agar masyarakat mampu mengelola limbah secara mandiri melalui konsep ekonomi sirkular.
Program ini ditargetkan mampu mengolah hingga 80 persen sampah organik pasar dan 70 persen limbah ikan menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mendukung pencapaian sejumlah target SDGs, di antaranya pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta penanganan perubahan iklim.
Keberhasilan menembus jajaran 60 besar nasional menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa Universitas Lampung tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Prestasi ini sekaligus memperkuat posisi Unila sebagai perguruan tinggi yang mendorong lahirnya inovasi berdampak bagi pembangunan berkelanjutan. (*).






