INFLASI LAMPUNG TERENDAH DI SUMATERA BELUM TENTU AMAN

Dosen FEB UBL: Efek Panen Raya Bersifat Sementara, El Nino dan Defisit Hortikultura Berpotensi Memicu Lonjakan Harga

BANDAR LAMPUNG – Keberhasilan Provinsi Lampung mencatat inflasi terendah di Sumatera mendapat apresiasi, namun para ekonom mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. Rendahnya inflasi dinilai merupakan kombinasi keberhasilan kebijakan pengendalian harga dan faktor musiman berupa panen raya yang belum tentu bertahan dalam jangka panjang.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bandar Lampung (UBL), Sony Tian Dhora, S.E., M.E., menilai capaian inflasi Lampung merupakan hasil perpaduan faktor struktural dan musiman.

Menurutnya, dari sisi struktural, koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), kebijakan stabilisasi harga, serta perbaikan distribusi pangan telah memberikan kontribusi positif dalam menjaga ekspektasi inflasi. Namun, panen raya sejumlah komoditas pangan juga menjadi faktor utama yang meningkatkan pasokan sehingga harga turun secara alami.

“Capaian inflasi Lampung yang menjadi terendah di Sumatera merupakan kombinasi antara faktor struktural dan musiman. Dari sisi struktural, koordinasi TPID, kebijakan stabilisasi harga serta perbaikan distribusi pangan telah berkontribusi dalam menjaga ekspektasi inflasi. Dari sisi musiman, panen raya pada beberapa komoditas pangan meningkatkan pasokan di pasar sehingga memberikan tekanan penurunan harga. Sehingga inflasi yang rendah tidak sepenuhnya dapat diatribusikan sebagai keberhasilan kebijakan karena terdapat faktor musiman yang secara alami akan menurunkan tekanan inflasi. Oleh sebab itu, keberlanjutan capaian ini perlu diuji ketika kondisi panen telah berakhir,” ujar Sony, Kamis (6/8/1026).

Ia mengingatkan, ancaman terhadap stabilitas harga masih cukup besar. Fenomena El Nino berpotensi menurunkan produktivitas pertanian akibat berkurangnya curah hujan dan meningkatnya risiko gagal panen, terutama pada komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang.

“Risiko atau ancaman tersebut relatif signifikan. El Nino berpotensi mengurangi produktivitas sektor pertanian melalui penurunan curah hujan dan meningkatkan risiko gagal panen, khususnya pada komoditas hortikultura yang memiliki elastisitas produksi tinggi terhadap perubahan iklim. Di sisi lain, defisit produksi bawang dan cabai menyebabkan ketergantungan terhadap pasokan antardaerah. Kondisi ini meningkatkan kerentanan terhadap gangguan rantai pasok maupun kenaikan biaya transportasi. Apabila kedua faktor tersebut terjadi bersamaan, tekanan inflasi khususnya pada kelompok volatile food berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang,” jelasnya.

Sony menilai ketahanan pangan Lampung secara umum masih cukup baik. Namun, defisit pada sejumlah komoditas strategis menunjukkan adanya kerentanan yang harus segera diantisipasi melalui peningkatan produksi lokal dan perbaikan sistem distribusi.

“Secara umum ketahanan pangan Lampung cukup baik, namun defisit pada komoditas strategis menunjukkan adanya kerentanan. Penguatan produksi lokal dan efisiensi distribusi menjadi kunci menjaga stabilitas harga,” katanya.

Ia juga menilai berbagai program stabilisasi harga yang selama ini dijalankan pemerintah, seperti operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah, cukup efektif untuk meredam gejolak harga dalam jangka pendek.

“Program tersebut cukup efektif sebagai instrumen stabilisasi jangka pendek. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada ketersediaan stok, distribusi yang tepat sasaran dan pengawasan yang konsisten,” tegasnya.

Lebih jauh, Sony menekankan bahwa pengendalian inflasi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kesejahteraan petani. Menurutnya, peluang menjaga inflasi tetap rendah sekaligus meningkatkan pendapatan petani masih sangat terbuka apabila pemerintah fokus meningkatkan produktivitas dan efisiensi rantai pasok.

“Peluangnya cukup besar apabila pengendalian inflasi dilakukan melalui peningkatan produktivitas, efisiensi rantai pasok, dan perbaikan distribusi, bukan dengan menekan harga di tingkat petani. Dengan demikian, stabilitas harga dan kesejahteraan petani dapat berjalan seimbang,” pungkasnya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *