BANDAR LAMPUNG – Festival Krakatau 2026 dinilai perlu terus diperkuat agar tidak sekadar menjadi agenda hiburan tahunan, tetapi benar-benar menjelma sebagai brand pariwisata dan budaya Lampung yang memiliki dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fauzi Heri, mengatakan Festival Krakatau merupakan kegiatan penting yang harus dipertahankan sebagai bagian dari promosi pariwisata daerah. Namun, menurutnya, evaluasi dan penguatan konsep harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Secara umum, saya melihat Festival Krakatau 2026 merupakan kegiatan yang penting untuk terus dipertahankan sebagai bagian dari promosi pariwisata Lampung. Namun, karena Festival Krakatau sudah memiliki nama dan sejarah yang sangat kuat, tentu kita harus terus melakukan evaluasi agar festival ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar menjadi brand pariwisata dan budaya Lampung,” kata Fauzi Heri, Selasa (25/8/2026).
Politikus Partai Gerindra itu menegaskan, keberhasilan festival tidak cukup hanya diukur dari banyaknya penonton atau meriahnya pertunjukan. Lebih jauh, festival harus mampu membuat masyarakat luar daerah mengenal budaya, kuliner, produk UMKM, hingga destinasi wisata Lampung.
“Festival ini jangan hanya diukur dari ramai atau tidaknya acara. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat yang datang kemudian mengenal Lampung, budaya Lampung, kulinernya, produk UMKM-nya, destinasi wisatanya, dan akhirnya tertarik untuk datang kembali,” ujarnya.
Krakatau Harus Jadi Benang Merah
Fauzi menilai nama Krakatau memiliki daya jual yang sangat kuat sehingga harus menjadi benang merah dalam keseluruhan konsep festival.
Menurutnya, narasi Krakatau dapat dikembangkan melalui sejarah, geologi, kelautan, ekowisata, budaya pesisir hingga potensi pariwisata Lampung.
“Kita bisa berinovasi dengan narasi letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang mengguncang dunia. Bisa dibuatkan seni kreasi dan event berdasarkan ide dari narasi letusan Krakatau,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, pengunjung diharapkan tidak hanya datang untuk menikmati hiburan, tetapi juga memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai sejarah serta kekayaan Lampung.
Budaya Lampung Jangan Jadi Pelengkap
Terkait porsi budaya lokal dan hiburan modern, Fauzi menilai keduanya tidak perlu dipertentangkan. Artis nasional tetap dapat dihadirkan sebagai magnet untuk mendatangkan massa, tetapi keberadaannya harus menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan identitas Lampung.
“Artis nasional bisa menjadi magnet untuk mendatangkan penonton. Tetapi setelah penonton datang, mereka harus diperkenalkan dengan Lampung. Jadi formulanya bukan nasional atau lokal, tetapi nasional untuk menarik perhatian, lokal untuk menunjukkan identitas,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang telah ditetapkan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota menjadi salah satu sumber materi utama Festival Krakatau.
“Kita punya PPKD yang ditetapkan melalui keputusan Gubernur Lampung dan dokumen PPKD yang ditetapkan oleh bupati dan wali kota se-Provinsi Lampung. Jadikan ajang Festival Krakatau untuk menampilkan warisan budaya benda dan tak benda yang ada di PPKD tersebut,” katanya.
Menurut Fauzi, kegiatan seperti Lampung Tapis Karnaval, Seruit Battle, Mengan Balak dan seni tradisional merupakan elemen penting yang harus diperkuat dengan kemasan kreatif.
“Misalnya kuliner tradisional jangan hanya menjadi lomba, tetapi dikembangkan menjadi culinary experience. Tapis jangan hanya menjadi karnaval, tetapi juga menjadi bagian dari cerita ekonomi kreatif dan industri fesyen Lampung,” ujarnya.
Anggaran Harus Beri Multiplier Effect
Sebagai anggota Komisi II DPRD Lampung yang membidangi sektor ekonomi, Fauzi menaruh perhatian terhadap dampak anggaran festival terhadap perekonomian masyarakat.
“Setiap rupiah anggaran pemerintah harus memberikan multiplier effect bagi masyarakat. Kita ingin anggaran festival tidak hanya habis untuk panggung, artis, dan seremonial,” katanya.
Ia meminta pemerintah memiliki data terukur mengenai dampak Festival Krakatau terhadap hotel, restoran, transportasi, UMKM, kerajinan, kuliner, ekonomi kreatif, seniman dan pelaku usaha pariwisata.
“Pemerintah perlu memiliki data: berapa transaksi UMKM, berapa peningkatan okupansi hotel, berapa wisatawan dari luar Lampung, berapa lama mereka tinggal, serta berapa perputaran ekonomi yang terjadi selama festival,” tegasnya.
Dorong Grand Design Lima Tahun
Fauzi juga mendorong Pemerintah Provinsi Lampung menyusun grand design Festival Krakatau minimal untuk lima tahun. Menurutnya, festival tidak boleh setiap tahun memulai konsep dari nol.
“Jangan setiap tahun memulai dari nol. Harus ada target jangka menengah: tahun pertama penguatan identitas, kemudian penguatan promosi nasional, pengembangan paket wisata, peningkatan kunjungan wisatawan, sampai akhirnya festival memiliki daya tarik internasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, grand design akan membuat penggunaan anggaran lebih mudah dievaluasi karena memiliki target dan indikator yang jelas.
Indikator keberhasilan, lanjut Fauzi, tidak hanya jumlah pengunjung. Pemerintah perlu mengukur jumlah wisatawan luar Lampung, lama tinggal, tingkat hunian hotel, transaksi UMKM, peningkatan penjualan produk lokal, keterlibatan seniman dan komunitas, pemberitaan nasional, pertumbuhan ekonomi kreatif hingga dampaknya terhadap promosi destinasi wisata.
Jangan Hanya Jadi Festival Hiburan
Fauzi mengakui Festival Krakatau 2026 sudah memiliki sejumlah unsur budaya dan pariwisata Lampung. Namun, ia menilai masih terdapat ruang untuk memperkuat identitas tersebut.
“Jangan sampai Festival Krakatau lebih dikenal karena artis yang tampil daripada karena Lampungnya,” katanya.
Menurut dia, artis dan konsep hiburan boleh berubah mengikuti perkembangan zaman. Namun, identitas Lampung dan Krakatau harus tetap menjadi ruh utama festival.
“Artis boleh berganti, konsep hiburan boleh berkembang, tetapi identitas Lampung dan Krakatau harus tetap menjadi ruh utama festival,” tegasnya.
Fauzi berharap Festival Krakatau ke depan tidak hanya menjadi event yang meriah secara seremonial, tetapi mampu membangun citra Lampung di tingkat nasional bahkan internasional.
“Intinya, Festival Krakatau jangan hanya menjadi acara yang didatangi orang, tetapi harus menjadi alasan orang datang ke Lampung,” pungkasnya.
Rangkaian Festival Krakatau 2026
Festival Krakatau 2026 sendiri berlangsung 25–30 Agustus 2026 dengan sejumlah agenda yang memadukan hiburan, kompetisi, budaya, edukasi dan kreativitas.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Solo Song dan Fun Battle Coffee pada Selasa (25/8), dilanjutkan Zumba Session, Modern Dance, Cupping Taste Competition serta workshop dan edukasi kopi pada Rabu (26/8).
Kamis (27/8) diisi Festival Band, Grand Final Fun Battle Coffee serta workshop dan edukasi kopi. Sementara Jumat (28/8) menghadirkan Seruit Battle, lomba Mengan Balak, mewarnai, Fashion Show Anak serta Grand Final Coffee Taste Competition.
Opening Ceremony dijadwalkan Sabtu (29/8), diawali Krakatau Run pukul 05.00 WIB. Malam harinya digelar prosesi pembukaan dengan pertunjukan marching band, flag attraction, tari kolaborasi Nusantara dan penampilan penyanyi, termasuk Sindy Swara & Band.
Rangkaian ditutup Minggu (30/8) melalui Pesona Kemilau Krakatau, yang menampilkan Lampung Tapis Karnaval, berbagai pertunjukan serta hiburan artis nasional. Armada & The Band dijadwalkan menjadi penampil utama pada malam penutupan.
Dengan rangkaian tersebut, Festival Krakatau 2026 diharapkan bukan hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi sarana promosi seni, budaya, UMKM, ekonomi kreatif, kopi, kuliner dan destinasi wisata Lampung. (*)






